Bang Rosyid Ditinggal Istri #7

Cerita sebelumnya: Rosyid yang tinggal sendiri setelah istrinya pergi menjadi TKI diam-diam disukai oleh Karim tetangganya yang baru duduk di kelas tiga SMA. Karim akhirnya bisa mendekati Rosyid. Masalah timbul ketika istri Rosyid kembali ke Tanah Air dan kemudian diketahui sedang hamil. Karim memilih menjauhi Rosyid. Sayangnya, saat Rosyid mengetahui bahwa anak yang dikandung istrinya bukan anaknya, Karim memilih pergi dari desa.
RASANYA berat bagiku untuk pergi dari desa. Terlebih aku berjanji pada nenek untuk tidak menuruti keinginan ibu kandungku yang tiba-tiba datang setelah sekian lama tak peduli pada kami. Rupanya ibu tak patah semangat. Walau sempat diusir nenek, beberapa hari kemudian beliau datang kembali ke rumah dan mengutarakan maksudnya.
Ibuku masih tampak cantik di usianya yang nyaris empat puluh tahun. Setelah bercerai dari ayah, Ibu rupanya berkenalan dengan seorang politikus muda ambisius. Suami barunya memiliki karir yang menjanjikan untuk menjadi anggota legislatif dan masa lalu istrinya akan menjadi suatu hal yang mungkin akan menghambat karirnya apabila media mengetahui bahwa istrinya pernah menikah dan memiliki anak.
Kudengar suami baru ibu akhirnya terpilih menjadi Bupati. Setelah itu barulah kebenaran bahwa Bupati memiliki istri yang pernah menikah terungkap media. Rupanya keluarga suami baru ibuku tak keberatan lagi sekarang. Oleh karena itu, Ibu yang setiap bulannya mengirimkan uang pada nenek akhirnya berani menunjukkan wajahnya kembali ke rumah.
“Ibu enggak nyangka punya anak seambisius kamu, Er.” kata Nenek.
“Ini semua demi Karim, demi ibu juga..” kata ibuku dengan sikap tegak dan dingin berusaha seperti layaknya seorang istri pejabat terhormat.
Ibu duduk di depan nenek. Dia duduk tetapi sikapnya yang tegak membuatnya seperti melayang dan tak menempel pada kursi yang dia duduki. Dia tak berusaha melihatku sama sekali. Entah karena merasa bersalah, atau memang hatinya sudah membatu.
“Ibu enggak butuh bantuan dari kamu! kamu lihat sendiri kan? Karim baik-baik saja di sini. Simpan semua uang kamu buat keluarga baru kamu! hanya karena kamu tidak punya anak…” nenek berhenti bicara saat kulihat ekspresi wajah ibuku berubah. Namun kemudian nenek melanjutkan kalimatnya.
“..hanya karena kamu tidak punya anak, sekarang kamu mau ambil Karim kembali? demi apa? demi supaya terlihat kalau keluarga suami kamu yang bupati itu terlihat lengkap, hah? begitu?” cecar nenek.
“Ini bukan keputusan ibu lagi. Karim sudah dewasa. Biar dia yang menentukan…” balas ibuku.
“Karim sudah bilang sama ibu kalau dia tidak mau ikut ke kota!” hardik nenek.
Aku menghela nafas. Pembicaraan kedua orang dewasa ini yang merasa seolah-olah berhak menentukan masa depanku membuatku sedih. Aku menoleh keluar ke arah rumah Bang Rosyid yang sepi. Aku tak bisa terus-terusan beranggapan bahwa hubunganku dan Bang Rosyid bisa berjalan mulus. Bagaimanapun Bang Rosyid sudah memiliki istri dan akan memiliki anak. Aku? di lubuk hatiku aku tak ingin masa mudaku tersia-siakan hanya demi menuruti keinginanku untuk selalu dekat dengan pria yang kucintai. Aku harus memikirkan masa depanku. Masa depan nenek juga.
“Karim bersedia ikut ibu…” kataku tiba-tiba.
Baik nenek dan Ibu bersamaan menatapku tak percaya. Ibu bahkan sampai seperti hendak bangkit dari duduknya.
“Karim… Karim enggak sayang nenek lagi?” tanya Nenek sedih yang membuat hatiku terasa hancur.
Aku mulai terisak.
“Karim sayang nenek, tapi.. Karim juga harus mikirin masa depan Karim. Mudah-mudahan Karim bisa cepat selesai Kuliah lalu bisa mandiri dan ajak Nenek tinggal sama Karim…”
“Tapi Karim kan bisa kuliah di dekat sini…” kata Nenek.
Aku memeluk Nenek. “Maafin Karim nek.. Karim janji akan sering datang ke sini jenguk nenek kalau nenek enggak mau pergi ke kota. Tapi Karim enggak bisa tinggal di desa karena..” aku tak bisa melanjutkan kalimatku.
Entah mengapa Nenek akhirnya melunak. Dia memelukku erat namun tak lagi mempertanyakan keputusanku. Hari itu juga aku berkemas hendak pergi. Nenek sambil menangis membantuku mengepak barang. Hatiku tak tega melihat nenek. Mungkin juga aku akan kembali ke desa dalam hitungan hari karena rasa rindu yang kuat. Tapi saat itu yang ada dalam pikiranku adalah bagaimana caranya pergi dari desa menjauhi Bang Rosyid.
“Sering-sering kabarin nenek..” katanya.
Aku mengangguk mantap sambil memasukkan pakaianku ke dalam kardus. Kulihat rumah Bang Rosyid melalui jendelaku. Aku berharap bisa melihat dirinya ada dan melihatku hendak pergi dan menahanku. Tapi tampaknya tak ada siapapun di rumahnya.
Setelah semua barang-barangku dimasukkan ke dalam mobil ibu, aku memeluk nenek sekali lagi sambil bertangisan. Ibu melihat kami dengan ekspresi tenang seolah tanpa merasa bersalah.
“Jaga diri kamu di sana. Sering-sering ke sini kalau libur.. nenek doain kamu jadi orang sukses…” kata nenek terbata-bata.
“Rim..? Karim? kamu mau ke mana?”
Tiba-tiba Bang Rosyid datang sambil memanggilku.
Aku melepaskan pelukan dari nenek dan berbalik padanya sambil mengusap airmata.
“Karim mau ikut ibu, Bang.. Karim pamitan dulu ya?” kataku sambil meraih tangannya dan menyentuhkannya pada dahinya.
“Loh? Kok mendadak gini? Kenapa?” tanya Bang Rosyid. Dia terlihat sangat cemas.
“Karim udah buat keputusan, Bang.. Karim mau kuliah di kota,” jelasku.
“Tunggu dulu.. tunggu.. Abang mau bicara dulu sama Karim!” kata Bang Rosyid lagi sambil menarikku agak jauh. Tangannya mencengkeram lenganku seolah tak mengizinkanku pergi.
Aku terdiam sesaat. Lalu aku meminta izin pada ibuku untuk berpamitan dulu dengan Bang Rosyid. Ibuku mengizinkan.
Bang Rosyid mengajakku ke dalam rumahnya. Begitu kami berada di dalam kamarnya, Bang Rosyid langsung memelukku.
“Jangan pergi, Rim.. Abang sayang kamu!” pintanya. Aku belum pernah melihat Bang Rosyid cengeng seperti ini.
“Karim enggak bisa deket terus sama abang. Abang udah punya istri dan bentar lagi bakal jadi bapak!” kataku.
“ABANG MAU CERAIKAN ISTRI ABANG! Abang baru tahu kalau dia selingkuh dan anak yang dia kandung bukan anak abang!” sahut Bang Rosyid.
Mendengar berita itu mendadak tubuhku lemas. Aku mundur dua langkah dari Bang Rosyid.
“A..apa bang?” tanyaku tak percaya.
“Abang minta Karim bersabar sebentar.. mau ya?” pinta Bang Rosyid sambil memegangi pundakku.
“Tetap aja enggak bisa, bang! memangnya kalau Karim menunggu abang, kita bakal sama-sama seterusnya, gitu?” Tolakku.
“Tapi minimal enggak ada orang lagi yang jadi penghalang kita, Rim,” kata Bang Rosyid.
“Karim juga punya impian bang.. Kalau memang kita nantinya sama-sama lagi, walau Karim juga enggak pengen ninggalin abang sekarang, Karim pengen jadi “orang” dulu.. Demi masa depan Karim, demi nenek juga,” sahutku.
Bang Rosyid menghela nafas. Dia akhirnya melepaskan cengkeraman tangannya pada lenganku dan terduduk di ranjang.
Aku menghampiri Bang Rosyid. Kukecup dahinya dan kuusap kepalanya dan kudekapkan pada dadaku. Ah, betapa aku akan merindukan pria gagah ini.. Cumbuannya, perhatiannya.. Pikirku dalam hati. Tapi aku harus memantapkan hatiku. Aku tak ingin berada terus dalam bayang-bayangnya.
“Sering-sering pulang kampung!” Pintanya.
“Iya bang.. Pasti. Doain Karim biar sukses ya, bang,” aku berkata.
Tak ada pilihan lain bagi Bang Rosyid selain merelakanku pergi. Kulihat dia memeluk Nenek yang kembali menangis saat aku menoleh ke belakang dari dalam mobil.
***
Saat aku tiba di rumah ibuku, rupanya beliau harus pergi ke suatu tempat di luar kota untuk menyusul suaminya.
Ibu tinggal di sebuah rumah dinas bupati. Walau tak sebesar rumah-rumah mewah di sekitarnya, rumah dinas ini terlihat apik dan terawat dalam bentuk bangunan kunonya yang masih dipertahankan. Di sebuah ruang tengah yang cukup besar, ada foto-foto bupati yang pernah memimpin daerah ini lengkap dengan keterangan nama dan periode jabatannya. Paling terbaru adalah ayah tiriku. Aku pernah melihatnya di televisi beberapa kali. Namanya Prasady Arman. Konon dia adalah politikus yang populer salah satunya karena ketampanannya. Memang, di usianya yang baru kepala empat, Pak Arman masih terlihat segar. Yang aku tahu beliau ini memang hobi berolahraga dan dipercaya menjadi pembina organisasi kepemudaan dan olahraga sejak sebelum dilantik menjadi bupati.
“Kamu… nanti ada yang ajak keliling rumah ini. Ibu enggak bisa lama-lama karena harus pergi. Nanti kita bicara lagi, ya?” kata Ibu. Nadanya sangat datar dan tak seperti seorang ibu yang berbicara pada anaknya.
Aku mengangguk. Saat aku berjalan mendekati Ibu, dia secara reflek mundur menghindar. Aku heran. Kupikir dia merasa bahwa aku akan memeluknya, padahal aku hanya ingin mencium tangannya sebelum Ibu pamit. Dia lalu salah tingkah setelah mengetahui niatku sebenarnya dan membiarkan tangannya untuk kusalami.
Ibu berdeham sebentar lalu membereskan blus dan tatanan rambutnya lalu mengucapkan kata pamit sebelum dia berlalu dari hadapanku.
Untunglah ada seorang kepala rumah tangga baik hati yang membantuku beradaptasi di rumah baruku ini. Awalnya aku merasa seperti sedang berasa di sangkar burung. Tak bisa kemanapun karena aku juga belum paham betul wilayah ini. Lama-lama aku bisa menghibur diri dengan menonton televisi dan membaca buku untuk menghabiskan waktu.
Aku tidak tahu kapan ibuku dan suaminya kembali. Kudengar mereka baru datang beberapa hari lagi. Kalau tahu begini, aku ingin kembali ke desa bersama nenek. Tapi bayangan Bang Rosyid membuatku berusaha tegar dan tak ingin terjerumus rasa kangen yang membuatku ingin pulang kampung.
Suatu malam, aku memandangi layar ponselku. Baru saja aku menelepon nenek memberitahukan kalau aku baik-baik saja di rumah baru. Sebenarnya aku ingin menanyakan kabar Bang Rosyid, tapi entah mengapa tak jadi kusebutkan dalam pembicaraanku dengan nenek. Haruskah aku mengirimkan sms kepada Bang Rosyid? tanyaku dalam hati. Tapi aku mengurungkan niatku.
Ayolah, Karim! masa baru berapa hari udah kangen? kataku dalam hati sambil menampar-nampar pipiku agar mengantuk.
Tak lama kemudian aku memang tertidur. Tapi entah jam berapa aku terbangun. Jantungku nyaris copot karena terkejut saat kudapati seseorang dalam keremangan lampu kamar.
“Karim?” tanya suara berat yang sosoknya duduk di ranjangku.
“I.. iya..” jawabku gugup.
Orang itu lalu menyalakan lampu kamarku yang tombolnya tak jauh dari ranjang. Saat itulah aku bisa melihat wajah yang kukenali sebagai suami ibuku. Bapak Prasady Arman. Dia tersenyum ramah menatapku. Aku heran. Sedang apa dia di kamarku malam-malam begini? Pakaiannya masih lengkap: kemeja lengan panjang polos dan celana bahan berwarna gelap.
“Eh.. bapak.. sudah pulang?” tanyaku berusaha bersikap sopan dan meraih tangannya untuk kusalami.
“Iya. Maaf bapak baru bisa temuin kamu hari ini. Ibu kamu bapak pinjam dulu..” katanya sambil meletakkan tangannya pada kakiku.
“Oh, eh.. iya pak.. enggak apa-apa.. Karim juga lagi berusaha membiasakan diri di sini..” kataku masih dalam keadaan gugup.
“Kamu sebaiknya selama liburan ini mulai cari-cari universitas yang kamu suka… pikirkan baik-baik pilihan jurusannya…” kata Pak Arman lagi. Kali ini tangannya bergeser ke atas sehingga meraba pahaku.
“Pak…” protesku sambil berusaha menepiskan tangannya dari pahaku. Aku tidak suka gelagat pria ini. Matanya yang tadi ramah mendadak seperti predator sedang memeriksa calon mangsanya.
Wajah Pak Arman berubah serius saat aku menepis tangannya. Tiba-tiba telapak tangannya menampar pipiku.
“Kamu jangan coba-coba bersikap tidak sopan sama saya!” bentaknya.
Aku meringis saat kurasakan panas pada pipiku. Sadar posisiku tidak menguntungkan, dan aku masih ragu apakah harus membuat keributan malam-malam begini, aku kemudian memilih diam dan menunggu apa yang akan dilakukan oleh Pak Arman. Aku berharap dia menghentikan perbuatannya dan segera keluar dari kamarku.
Tampaknya diamku membuat Pak Arman seperti mendapat angin. Tangannya tiba-tiba semakin agresif. Disusupkannya telapak tangannya ke balik kausku dan meremas dadaku hingga aku merasa kesakitan.
“Aww.. Pak! jangan!” rengekku sambil berusaha menjauhkan tangannya yang kekar dari tubuhku.
Pak Arman tidak menggubris protesku. Dia malah menundukkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya pada leherku. Hidungnya mulai mengendus-endus. Aku bisa merasakan kumis dan janggutnya yang tajam seperti baru tumbuh itu menggesek kulit leher dan pipiku. Telapak tangannya semakin liar mengusap dan meremas dadaku. Aku bingung. Apakah aku harus berontak dan berteriak? apa yang harus kujelaskan apabila banyak orang yang datang ke kamarku termasuk ibu? apakah mereka akan mempercayaiku. Mataku terpejam dan seluruh tubuhku menegang sebagai tanda penolakan atas cumbuan paksa Pak Arman saat itu.
Setelah puas bergeriliya pada dadaku, kini tangannya berusaha menyelusup masuk ke dalam celana pendekku. Aku meringis hendak menangis namun tak kuasa menolak cengkeraman Pak Arman yang kuat saat telapak tangannya dengan brutal meremas-remas penisku hingga terasa sakit. Kulihat Pak Arman seperti sedang terangsang menikmati perbuatannya. Dia lalu berdiri dan melepas kancing kemejanya. Untuk pria berusia kepala empat, tubuh pak Arman masih terlihat kencang dan kekar. Tak hanya kancing kemejanya, dia juga membuka kancing dan risleting celananya lalu menarik tanganku masuk ke dalam celana boksernya dan memaksaku untuk memegangnya. Aku terlonjak sedikit saat kugenggam penis Pak Arman yang ukurannya ternyata cukup besar.
“Ayo pegang! remas yang benar.. uhh.. hhh…” desahnya saat telapak tangannya memaksa tanganku untuk terus bergerak di dalam celananya.
Aku benar-benar sudah menangis saat Pak Arman terus membuat tanganku lama menggenggam penisnya yang kurasakan sudah sangat tegang itu. Wajah Pak Arman terlihat sangat keenakan. Tangannya bergerak semakin cepat memaksaku mengocok penisnya semakin cepat pula. Tiba-tiba dia kembali menunduk. Dihisapnya puting dadaku kuat-kuat sampai aku memekik kesakitan. Kucoba untuk menarik rambut Pak Arman agar dia menghentikan perbuatannya, namun tenaganya lebih besar. Beberapa saat kemudian Pak Arman melenguh dan melepaskan tanganku dari balik celananya. Dia lalu berdiri dan menurunkan celana dalamnya dan menarik rambutku hingga kepalaku mendekati selangkangannya.
“Ayo buka mulutnya! buka!” perintahnya.
Sambil memegangi kepalaku, Pak Arman memaksaku mengulum penisnya yang sudah tegang itu. Aku terbatuk-batuk karena sulit bernafas sementara tanganku menggapai-gapai udara berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangannya pada rambutku.
Lalu Pak Arman menembakkan cairan ejakulasinya ke dalam mulutku hingga aku merasa mual. Setelah dia selesai aku terbatuk-batuk dan memuntahkan cairan kental itu dari mulutku ke lantai. Airmataku mengalir dan kurasakan wajahku memanas. Kulihat Pak Arman terengah-engah sambil tersenyum puas. Wajahnya terlihat sangat kejam. Dia membereskan pakaiannya.
“Saya akan bilang nenek! saya akan bilang ibu!” sahutku sambil mengusap mulutku yang masih terasa lengket.
“Coba saja kalau berani…” kata Pak Arman tenang sambil meraih ponselku dari atas meja.
Aku terkejut dan berusaha mengambil ponsel itu dari tangannya. Tapi Pak Arman lebih sigap dan mendorongku ke lantai hingga terjerembab.
Kulihat Pak Arman membuka penutup ponselku dan mencabut kartu simnya. Dia menatapku sekilas sambil tersenyum lalu tanpa kusangka dilemparnya keras-keras ponselku ke dinding hingga hancur. Seperti belum cukup, Pak Arman memungutnya kembali dan menghantamkan layarnya pada dinding hingga remuk.
“Wah..wah.. sepertinya kamu butuh HP baru ya? jangan khawatir.. besok bapak belikan yang bagus ya, hmm?” kata Pak Arman dengan nada mengejek sambil memegang daguku.
Aku menepis tangannya dari wajahku dengan marah. Pak Arman terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lalu keluar dari kamarku.
Bang Rosyid.. Karim ingin pulang…
-bersambung-

Read More →

Bang Rosyid Ditinggal Istri #6

Cerita sebelumnya: Rosyid yang tinggal sendiri setelah istrinya pergi menjadi TKI diam-diam disukai oleh Karim tetangganya yang baru duduk di kelas tiga SMA. Perasaan Karim bersambut. Rosyid bahkan telah mengambil keperjakaan Karim. Masalah muncul saat tiba-tiba istri Rosyid kembali ke Tanah Air dan belakangan ternyata hamil. Sementara itu, Karim yang baru saja lulus SMA terkejut mendengar kabar itu.
“KAMU mau ke mana, Yus?” tanyaku ketika melihat istriku seperti hendak keluar rumah sore itu sambil menenteng ponselnya.
“Eh, Bang.. mau isi pulsa dulu ke sebelah…” kata Yus. Tampaknya dia agak terkejut tak menyangka aku melihatnya keluar.
“Kayaknya sering amat beli pulsa, Yus?” tanyaku.
“Iya, Bang.. Yus kan sering telepon ibu.. buat tanya-tanya kehamilan,” kata istriku.
Aku menggumam sambil mengangguk.
“Makanan ada di meja ya, bang. Yus udah panasin tadi,” katanya lagi sebelum keluar dari rumah.
Aku mengangguk lagi sambil mengawasi Yus pergi.
Sejak aku memberitahu Karim perihal kehamilan Yus, sepertinya anak itu kembali berusaha menjauhiku dua minggu ini. Sialnya lagi, sejak Yus hamil, dia selalu menolak ajakanku untuk berhubungan badan. Aku memang sedikit egois, (oke! sangat egois.) untuk kalau bisa mempertahankan keduanya. Dengan Yus, aku bisa menikmati seks sebagaimana mustinya: dengan wanita. Sebagai pria, aku terbiasa tertantang membuat wanita menggeliat nikmat di atas ranjang. Itu selalu berhasil memuaskan egoku. Tapi dengan Karim? aku mendapatkan kepuasan tanpa harus berusaha keras. Pria adalah mahluk yang mudah terpuaskan, tidak seperti wanita yang kadang selalu terganggu oleh suasana hati. Dengan Karim, entah bagaimanpun suasana hati kami saat itu, pikiran apapun, ketika kami bersatu, tujuan kami hanya satu: mencapai kepuasan.
Itulah sebabnya, aku merindukan Karim. Memang harus aku akui, sekarang ini aku merindukannya tak hanya urusan seks. Jatuh hati padanya? mungkin. Setidaknya aku peduli dan sayang dengan anak itu. Saat aku bilang padanya bahwa Yus sedang hamil, wajahnya menyiratkan kekecewaan yang amat dalam. Dia tak berkata apa-apa. Tapi raut wajahnya sudah cukup memberitahukan padaku bahwa dia cemburu. Dia benar-benar menyukaiku dan mau tak mau itu berpengaruh padaku.
Sore hari itu Yus berpamitan padaku. Dia mengatakan akan menginap di rumah orangtuanya selama beberapa hari karena siang hari, saat aku bekerja di ladang, dia yang sedang mengalami mual-mual akibat hamil tak ada yang memerhatikan. Yus bilang tak bisa terus-terusan merepotkan Neneknya Karim hingga dia memutuskan untuk tinggal beberapa lama di rumah orangtuanya sampai kondisinya lebih baik.
Kakak laki-laki Yus (yang dari dulu tidak menyukaiku), tidak banyak bicara saat menjemput Yus dengan motornya.
“Yus pergi dulu, bang,” kata istriku sambil menempelkan punggung tanganku pada dahinya.
“Hati-hati di jalan, pelan-pelan jalanin motornya!” pesanku.
Malam itu aku kembali kesepian. Aku memeluk guling kembali mengingat-ingat saat Karim beberapa kali menginap di rumahku dan melayani nafsuku.
Tiba-tiba ponselku bergetar. Aku langsung bangkit saat kulihat pesan dari Karim. “Buka pintu dapurnya bang, Karim mau mampir..”
Cepat-cepat aku turun dari ranjang dan memperbaiki sarungku. Kulihat Karim sudah berdiri di luar pintu belakang rumah saat kubuka pintu. Kepalanya tertunduk.
“Loh, Karim? ada apa malam-malam datang?” tanyaku.
Karim tak menjawab. Dia malah bertanya balik.
“Boleh masuk, Bang?”
Aku mengangguk dan membuka pintu lebih lebar mempersilakan Karim untuk masuk.
Karim tiba-tiba memelukku sesaat setelah aku mengunci pintu dapur. Dia membenamkan wajahnya di pundakku dan mengatakan sesuatu.
“Karim enggak tahan. Karim kangen sama abang..” ujarnya.
Aku lalu mengangkat wajahnya dan menatapnya beberapa lama.
Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin kuajukan. Bagaimana kabarnya? apa saja kegiatannya setelah lulus? tapi semua itu tak bisa terucap. Aku lalu mencium bibir anak itu lama sekali.
Karim bereaksi. Dia balas menciumku. Karim tak menolak saat aku menggiringnya masuk ke dalam kamar. Kubuka kausnya dan Karim lalu ganti membuka kausku. Sambil terus menciumnya, aku menindih Karim di atas ranjang. Aku mencumbu leher dan bagian tubuh Karim lainnya yang aku rindukan. Karim mendesah. Desahan dan rintihan yang biasa keluar dari mulutnya tanda menikmati setiap rangsangan yang kuberikan.
Tapi kali ini Karim tak mau berlama-lama dalam posisi yang pasrah. Dia lalu mendorong tubuhku tiduran di atas ranjang. Dengan sigap Karim membuka celanaku. Kupejamkan mata dan kunikmati saat Karim mulai mengoral penisku. Aku mendengar diriku sendiri melenguh ketika sapuan lidah Karim yang lincah menyapu batang penisku, mengulumnya, mengisapnya hingga terasa hangat dan basah.
Setelah Karim membuat basah batang penisku yang sudah sangat keras itu, Dia lalu bangkit dan kedua pahanya dalam posisi mengimpit pinggangku. Aku lihat dada dan peutku naik turun menantikan apa yang akan dilakukan oleh pemuda tampan ini di atas tubuhku.
Karim lalu meraih batang penisku yang berdiri tegak. Diarahkannya kepala penisku tepat pada pintu masuk lubang anusnya. Kudengar nafas Karim semakin jelas dan cepat. Dia memejamkan matanya saat perlahan menurunkan pinggangnya agar batang penisku semakin masuk ke dalam anusnya. Aku menggeliat saat kurasakan jepitan dinding anus Karim mulai terasa memijat-mijat kemaluanku. Karim menghentikan gerakannya sejenak berusaha membiasakan diri kembali dengan batang penisku di dalamnya.
“Hhh… uuh..” kudengar dirinya mendesah sambil menggigit bibirnya sendiri seperti kesakitan. Awalnya aku tak tega melihatnya bekerja keras sendirian, namun aku menahan diri dan memutuskan untuk melihat aksinya. Kucengkeram paha Karim. Nafasku menjadi tertahan ketika Karim lanjut menurunkan tubuhnya sehingga aku melihat sendiri batang penisku menghilang ke dalam pantatnya.
“Nggh…” erang Karim sambil menggenggam penisnya.
Aku kembali mengerang ketikan anus Karim semakin ketat menjepit penisku. Rasanya seperti kemaluanku disedot oleh alat vakum ketika Karim mengangkat pantatnya lalu menurunkannya berulang kali.
“Enggh….” erang Karim berkali-kali. Wajanya meringis seperti gabungan antara sakit dan keenakan. Gerakannya semakin cepat. Karim mengerang-erang sambil pinggangnya terus bergerak-gerak. Beberapa lama kemudian, Karim melengkungkan punggungnya dan meletakkan kedua telapak tangannya pada betisku. Pantatnya terus naik turun mencoba memuaskanku. Tak tahan hanya bersikap pasif, kuangkat pinggulku dan mulai mendorong penisku ke dalam pantat Karim. Karim meringis semakin kencang. Tapi dia tidak mecoba menghentikanku. Desahannya semakin kencang, dan akhirnya Karim mencapai orgasme lebih dulu. Spermanya memancar keluar membasahi dada dan perutnya.
Aku mempercepat gerakanku. Eranganku semakin keras saat aku merasa akan keluar. Dan dengan hentakan terakhir, aku menyemburkan isi zakarku ke dalam pantat Karim. Kudengar dia mendesah panjang dan menggigil. Reaksi tubuhnya ketika aliran sperma hangatku masuk. Tubuh Karim ambruk. Dia lalu memelukku erat sekali. Aku membiarkannya karena tahu dia mungkin sangat merindukanku. Lagipula Aku juga menikmatinya.
****
Karim memang tak menginap malam itu. Dia pulang ketika kami berdua terbangun lewat dini hari. Namun sejak saat itu, Karim kembali menjauhiku. Aku yang kini bertanya-tanya dengan perubahan sikapnya. Sebenarnya Karim masih ingin bertemu denganku atau tidak, walau mengetahui istriku dalam keadaan hamil.
Saat aku kembali dari ladang setelah mencuci peralatanku, aku mendapati Karim sudah berada di saung.
“Loh, Karim? tumben main ke sini?” tanyaku.
“Iya, Bang… udah enggak ada kegiatan di sekolah. Karim resmi jadi pengangguran,” katanya.
“Karim enggak mau lanjut kuliah?” tanyaku sambil mengambil tempat duduk di sebelahnya.
“Pengen sih, Bang.. tapi.. kalau ke kota, artinya Karim enggak bisa ketemu abang lagi..” kata Karim.
“Ke kota? memangnya nenek kamu punya biaya buat kamu kuliah di kota? kenapa enggak di kampus yang ada kecamatan aja?” tanyaku.
Karim terdiam. Setelah menghela nafas dia melanjutkan.
“Sebenernya Karim juga pengennya begitu. Biar bisa deket sama Abang, tapi… Karim enggak yakin bisa tahan lihat abang berduaan sama Kak Yus, lalu punya anak, lalu..” Karim tak melanjutkan ucapannya.
Aku memeluk Karim. “Maafin abang, ya? Abang enggak nyangka kalau Karim sebegitu sayangnya sama abang sampai…”
Aku diam sejenak.
“..tapi kalau Karim emang merasa harus kejar cita-cita pergi ke kota, ya..” rasanya sesak sekali berkata hal itu dan berpura-pura tenang. Aku sebenarnya tak rela Karim pergi.
Karim melepaskan pelukannya.
“Sebenarnya Karim sudah janji sama nenek.. Ibu Karim sempat datang ajak Karim tinggal di kota. Tapi Karim enggak tega tinggalin nenek… dan abang. Tapi kalau abang ngerasa kalau Karim sebaiknya pergi sih..”
Aku meneguk ludah. Dalam hati sebenarnya aku ingin bilang bahwa sebaiknya Karim tetap di desa. Tapi aku tak bisa menjadi penghalang masa depan anak ini.
“Yah.. tolong pikir yang masak ya, Rim.. ini Buat masa depan kamu,” kataku sambil menepuk bahu Karim.
Karim lalu berpamitan. Aku ingin mencium dirinya, namun anak itu malah meraih tanganku untuk salim dan pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Aku mengawasi bayangan Karim sampai menghilang di balik pepohonan.
***
Pagi harinya, saat aku hendak menuju sawah, di jalan setapak aku bertemu dr. Ita. Perempuan itu naik sepeda motor keluaran tahun lama menuju klinik desa dan kebetulan berpapasan denganku.
Karena aku sering membantunya membangun tenda saat ada acara penyuluhan kesehatan, dr. Ita cukup kenal denganku.
“Pagi pak Rosyid… pergi ke sawah, nih?” katanya sambil memperlambat laju motornya.
“Eh, bu dokter. Iya bu,” jawabku ramah.
“Bagaimana kondisi istrinya? jangan lupa jadwal ke klinik lagi ya buat periksa kehamilan. Kemarin Pak Rosyid cuma tunggu di luar aja ya? padahal harus tau juga loh, jadwal cek kehamilan,” kata dr. Ita lagi.
“Baik Bu dokter. Sekarang istri saya di rumah orangtuanya. Katanya sampai ngidamnya reda,” kataku.
“Yang sabar ya Pak Rosyid, pastikan aja gizinya seimbang dan enggak banyak yang dimuntahin.. apalagi kehamilan pertama ini, kemarin sepertinya telat ya periksanya? harusnya jangan nunggu sampai usia kehamilan delapan minggu,” jelas dr. Ita.
Mendengar penjelasan dr. Ita, aku langsung berpikir. Delapan minggu? bukankah Yus baru datang sebulan lebih beberapa hari saja? aku hendak mengutarakan keherananku dan bertanya pada dokter untuk memastikan kembali. Tapi aku menahan diri.
“Oh.. iya.. iya dok, nanti saya awasi kehamilan Yus..” kataku buru-buru.
“Nah, gitu dong Pak Rosyid. Jadi suami siaga ya?”
Aku tak sempat lagi memikirkan hal lain. Buru-buru aku kembali ke rumah dan batal untuk pergi ke sawah hari ini. Yus masih di rumah orangtuanya dan aku tidak memiliki kendaraan. Itu sebabnya, aku meminta Edi tetanggaku untuk mengantarku ke rumah orangtua Yus menanyakan kebenaran usia kandungannya.
“Tunggu dulu di sini, Ed..” kataku.
“Kamu mau jemput Yus, Syid?” tanya Edi.
“Enggak, cuma mau tanya sesuatu aja,” ujarku pelan sambil mengepalkan lenganku menahan marah.
Awalnya aku hendak melampiaskan keherananku dengan marah-marah di rumah Yus, tapi aku menahan diri. Kumasuki rumah orangtuanya yang pintunya kebetulan terbuka dan mencari-cari penghuni rumah itu.
Aku berkeliling rumah, namun sepertinya semua orang sedang pergi. Kemudian aku mendengar dua orang wanita bercakap-cakap di dalam sebuah kamar.
Aku mengintip dari balik tirai berusaha tak bersuara. Kulihat Yus dan ibu mertuaku sedang mengobrol di atas ranjang. Yus terlihat berurai air mata.
“Rosyid sudah tahu? gimana kalau dia tahu anak ini campuran..” kata ibu mertuaku.
Kulihat Yus menggeleng.
“Ini bukan sama majikan Yus. Yus kenal TKI yang kerja di pelabuhan. Orang kita juga.. trus Yus dirayu.. dan.. dan…” ujar Yus tersendat.
“Yus sudah telepon orang itu di luar negeri, dia malah enggak mau tahu…” lanjutnya.
Oh, itulah sebabnya Yus sering sekali menghabiskan pulsa teleponnya.
“Kalau kamu bohong, tetap saja Rosyid tahu kamu melahirkan lebih cepat, Yus!”
“Yus bisa bilang, kalau anak ini lahir prematur, asal Yus di sini terus sama ibu selama Yus hamil…” pinta istriku.
Tak tahan dengan pembicaraan mereka, aku lalu masuk ke kamar. Keduanya sangat terkejut melihat kedatanganku.
“Enggak usah sampai melahirkan! Abang sudah dengar semua!” raungku di hadapan mereka. Tak tahan, kuangkat tanganku hendak menampar Yus. Namun jeritan ibu mertuaku menahan perbuatanku.
“Syid! JANGAN SYID!! DIA ISTRI KAMU!”
“Dasar istri enggak tahu malu! saya enggak akan kotorin tangan ini buat mukul kamu, ngerti! saya akan segera ceraikan kamu!” sahutku.
Kulihat Yus menangis semakin menjadi-jadi. Membujukku untuk tak pergi sama saja mengundangku untuk menyakitinya. Itulah sebabnya mereka berdua yang tertangkap basah tak ada yang berani melawanku.
Dalam perjalanan pulang, rasa marahku berangsur-angsur menjadi hilang. Artinya.. artinya aku bisa bersama Karim lebih lama. Walaupun aneh aku memikirkan itu, karena kami sama-sama lelaki dan tak mungkin menikahinya, tapi bayangan bahwa penghalang antara diriku dan Karim sudah tak ada lagi membuatku merasakan setitik kebahagiaan menyelusup di hatiku.
Saat aku tiba di rumah, aku hendak bertemu Karim dan ingin menceritakan segala sesuatunya. Dengan gembira aku melompat dari boncengan motor Edi. Langkahku terhenti ketika kulihat ada sebuah mobil terparkir di depan rumah nenek Karim. Karim ada di situ berpelukan dengan neneknya yang menangis tersedu-sedu. Dia berpakaian rapi dan menenteng tasnya. Seorang wanita paruh baya yang cantik, ditemani seorang pria yang tampaknya adalah sopir wanita itu, berdiri tak jauh dari mereka. Sabar menunggu sambil memerhatikan Karim dan neneknya berpelukan.
“Rim..? Karim? kamu mau ke mana?” tanyaku sambil berjalan  terburu-buru ke arahnya.
Karim melepaskan pelukan dari neneknya dan berbalik padaku sambil mengusap airmatanya.
“Karim mau ikut ibu, Bang.. Karim pamitan dulu ya?” ujarnya sambil meraih tanganku dan menyentuhkannya pada dahinya.
Aku tertegun tak menyangka berita ini terlambat kuketahui. Karim telanjur akan pergi.
-bersambung-

Read More →

Bang Rosyid Ditinggal Istri #5

Cerita sebelumnya: Rosyid yang tinggal sendiri setelah istrinya pergi menjadi TKI diam-diam disukai oleh Karim tetangganya yang baru duduk di kelas tiga SMA. Perasaan Karim bersambut. Rosyid bahkan telah mengambil keperjakaan Karim. Masalah muncul saat tiba-tiba istri Rosyid kembali ke Tanah Air…
JANGAN sms-an dulu ya rim?”
Begitu kalimat yang tertera pada layar ponselku. Itu adalah peringatan dari Bang Rosyid agar aku tak menghubunginya dulu. Kekhawatirannya dimulai sejak Kak Yus, istrinya yang bekerja sebagai TKI di luar negeri mendadak kembali tanpa pemberitahuan. Padahal aku sudah merasa bahwa Bang Rosyid sepenuhnya milikku. Tentu saja itu sebuah pemikiran yang bodoh. Bang Rosyid selamanya akan menjadi suami Kak Yus bila mereka tak berpisah. Kalaupun tak sekarang, suatu saat juga Kak Yus tetap akan kembali.
“Rim.. Karim.. sini keluar sebentar. Yus bawa oleh-oleh nih,” panggil Nenek dari ruang tamu.
Aku meletakkan ponselku di meja dan menarik kausku agar lebih rapi sebelum keluar kamar. Aku tidak terlalu dekat dengan Kak Yus. Dulu, sebelum dia pergi keluar negeri kami jarang bertegur sapa. Itu karena Kak Yus berasal dari kecamatan lain. Mungkin sesekali dia dan nenek mengobrol, tapi aku lebih tertarik memerhatikan Bang Rosyid daripada memedulikan istrinya.
Aku tiba di ruang tamu. Kak Yus sudah duduk dan sedang mengobrol sambil tertawa-tawa dengan nenek. Di atas meja ada kantung kertas tebal dengan tulisan bagus berwarna emas. Aku mengangguk pada Kak Yus sambil tersenyum. Aku menghampirinya lalu meraih tangannya dan menempelkan punggung tangannya pada dahiku. Kak Yus terlihat makin cantik. Mungkin di luar negeri dia rajin merawat diri. Rambutnya yang lewat sebahu tampak hitam mengilat. Kulitnya bersih dan mulus seperti sudah tersentuh perawatan mahal.
“Maaf nek, Yus beres-beres dulu di rumah.. baru sempat antar oleh-oleh buat nenek,” kata Kak Yus ramah.
“Aduh Yus.. enggak usah repot-repot…” kata Nenek basa-basi.
“Enggak apa-apa nek, kata Bang Rosyid nenek sering masak buat abang selama Yus pergi. Ini enggak ada apa-apanya dibanding nenek yang udah bantu ngerawat abang,” kata Kak Yus lagi. Dia lalu menyerahkan sebuah bungkusan plastik berwarna cerah kepada nenek.
“Ini kain tenun khas di sana. Kayaknya cocok buat nenek pergi ngaji atau kondangan,” kata Kak Yus.
Nenek mengeluarkan selembar kain bermotif cerah yang nampak bagus dan halus lalu wajahnya berubah gembira.
“Wah, Yus, bagus sekali.. terima kasih, ya?” kata nenek.
Kak Yus tersenyum senang. Kemudian dia mengambil kantung plastik lainnya. Kali ini berisi sebuah kotak panjang berbau harum.
“Nah, Karim pasti suka cokelat, kan? Nih.. kak Yus bawain buat Karim..” katanya sambil tersenyum tulus.
Aku yang sedari tadi diam tak berani menatap mata Kak Yus, dengan berat hati tersenyum juga sambil menerima pemberiannya.
“Umm.. Nek, sebenarnya Yus mau tanya sesuatu, tapi…” tiba-tiba Kak Yus mendadak serius. Dia seperti ingin melanjutkan ceritanya namun ragu karena melihatku masih berada di situ.
Sadar bahwa Kak Yus hendak bercerita sesuatu yang mungkin bersifat pribadi, Nenek menyuruhku masuk.
“Rim, bawa oleh-oleh ini ke dalam dulu, gih.. biar Kak Yus nenek temani,” suruh nenek.
Awalnya aku ragu karena ingin tahu juga apa kira-kira yang akan dikatakan oleh Kak Yus. Namun aku menuruti perintah nenek.
Di dalam, diam-diam aku menguping pembicaraan Kak Yus dan nenek.
“Kamu mau tanya apa, Yus?” tanya nenek pelan.
“Um.. begini nek, apa.. apa selama ini nenek lihat ada tanda-tanda Bang Rosyid.. um.. selingkuh?” tanya Kak Yus hati-hati.
Aku tercekat mendengar pertanyaan itu. Dengan berdebar aku menunggu respon nenek.
“Yus.. nenek enggak suka mata-matain orang, apalagi ikut campur urusan orang lain.. tapi setahu nenek, Rosyid itu sehari-hari kerja keras… suami kamu itu rajin dan pekerja keras, enggak pernah nenek liat dia kelayapan abis pulang dari ladang..” jelas nenek.
“Gitu ya, nek? habisnya Bang Rosyid kayak enggak senang Yus pulang… takutnya dia udah kecantol perempuan lain…” keluh Kak Yus.
“Kamu harus sabar Yus.. bukannya nenek suka gosip, ya.. tapi kabarnya Rosyid enggak suka kamu jadi TKW. Gaji dari kamu aja enggak dia pakai, kan?” kata nenek.
“Iya Nek.. Mungkin Yus harus lebih bersabar aja.”
“Nah, gitu dong..”
Akupun diam-diam kembali ke kamarku.
Saat aku kembali ke kamar, kulihat ada pesan dari Bang Rosyid di ponselku .
“Nanti malam ketemu abang di saung. Abang akan cari cara bisa keluar.”
Aku menghela nafas. Bukannya aku tak ingin bertemu dengan Bang Rosyid. Hanya saja, keadaan kini sudah berbeda sejak kedatangan Kak Yus. Tapi aku putuskan untuk mengambil resiko bertemu dengan Bang Rosyid nanti malam.
***
Jam di ujung layar ponselku sudah menunjukkan jam sembilan malam, aku merasa inilah saatnya aku berangkat. Tentu saja aku akan diam-diam keluar rumah tanpa sepengetahuan nenek. Kudengar nenek sudah selesai mengaji dan beberapa saat kemudian tak lagi terdengar suaranya. Pasti nenek sudah tertidur. Aku lalu meraih lampu darurat dan sarung yang lalu kulingkarkan pada bahuku. Perlahan kubuka jendela kamarku agar tak menimbulkan suara. Dengan satu gerakan mulus, aku berhasil keluar rumah setelah memastikan tak ada seorangpun yang lewat di luar.
Tadinya aku berniat untuk langsung pergi ke saung milik Bang Rosyid. Kupikir dia sudah berada di sana. Tapi aku mendengar dari arah rumahnya suara orang bercakap-cakap. Aku mengendap-endap lalu berjongkok tepat di bawah jendela kamar Bang Rosyid di balik sebuah gentong besar yang bayangannya membuatku semakin tak terlihat orang yang mungkin saja lewat di depan rumahku.
Aku mengenali kedua orang yang bercakap-cakap itu: Kak Yus dan Bang Rosyid.
“Abang! ngapain malam-malam ke sawah sih, bang?” tanya Kak Yus.
“Sebentar lagi udah mau panen, malam-malam itu banyak hama yang keluar. Abang harus pastiin mereka enggak makan tanaman, Yus!” kata Bang Rosyid ketus.
Aku mendengarkan sambil berharap-harap cemas.
“Tapi Yus kan baru pulang Bang, masa mau pergi malam ini?”
“Abang kan udah temenin kamu dua hari ini, sawah enggak keurus, Yus!” kata Bang Rosyid beralasan.
“Pokoknya Abang enggak boleh pergi!” suara Kak Yus mulai meninggi.
“Apa-apaan kamu?” bentak Bang Rosyid.
Aku yang mendengarkan mendadak khawatir. Kunaikkan kepalaku berusaha mencari tahu apa yang terjadi. Rupanya dinding kayu rumah Bang Rosyid terdapat sebuah lubang yang cukup besar untukku bisa melihat apa yang terjadi di dalamnya. Aku meneguk ludah sekali dan berusaha sekuat tenaga menjaga nafasku tak terdengar.
Rupanya Kak Yus yang saat itu memakai daster memaksa Bang Rosyid membuka kausnya. Aku bisa melihat punggung kekar Bang Rosyid yang terbuka karena tubuhnya membelakangiku. Sejurus kemudian, Kak Yus melepas dasternya dan memeluk Bang Rosyid. Aku tercekat melihat pemandangan itu. Awalnya Bang Rosyid berusaha menolak, tapi Kak Yus terus memeluk erat suaminya.
“Abang marah sama Yus? enggak kangen sama Yus?” tanya Kak Yus sambil meletakkan telapak tangan Bang Rosyid pada payudaranya yang terbuka. Memohonnya untuk meremas kedua bukit itu.
Bang Rosyid hanya bereaksi sedikit. Lalu Kak Yus berlutut dan membuka celana Bang Rosyid hingga giliran pantatnya yang terlihat jelas olehku. Jemari Kak Yus mencengkeram lembut kedua belah pantat Bang Rosyid sementara dari balik tubuh Bang Rosyid kulihat kepala Kak Yus bergerak-gerak karena sedang memberikan servis oral kepada suaminya.
Kudengar Kak Yus merintih. Bang Rosyid juga mulai mendesah. Dia lalu memegang lengan Kak Yus dan membimbingnya ke ranjang. Lalu Bang Rosyid menggeram saat dia menindih Kak Yus di atas ranjang. Rintihan Kak Yus semakin keras seiring dengan tubuhnya yang bergerak-gerak di atas ranjang. Kedua kakinya dia angkat tinggi-tinggi dan diletakkannya di kedua bahu Bang Rosyid.
Rintihannya menjadi erangan yang kencang. Bang Rosyid juga bergerak-gerak. Kulihat pinggangnya bergerak liar membuat penisnya terus menyetubuhi istrinya. Kudengar dia menggeram. Cukup lama mereka bergerak-gerak di atas ranjang saling berangkulan dan berciuman. Wajah Bang Rosyid dibenamkan pada kedua payudara istrinya. Cahaya dari lampu kamar membuatku bisa melihat wajah Kak Yus yang menikmati permainan itu.
“Ngggh.. abang… nggh.. hh.. Yus kangen..” rintih Kak Yus. Diangkatnya kepalanya dan kedua tangannya mencengkeram bahu Bang Rosyid. Tak lama giliran kedua pahanya mencengkeram pinggang Bang Rosyid. Kulihat tubuh Bang Rosyid bergetar dan dia melengkungkan punggungnya ke atas. Kak Yus merintih panjang berbarengan dengan erangan Bang Rosyid. Lalu keduanya ambruk di atas ranjang sambil terengah-engah.
Aku lalu bangkit dan mengendap-endap kembali ke kamarku. Dadaku sesak. Yang aku tahu, malam ini pertemuanku dan Bang Rosyid batal.
***
“Rim! Karim!” panggil Bang Rosyid saat aku berjalan pulang dari sekolah sendirian sore itu.
Aku hanya menoleh sekilas dan terus berjalan mengabaikan Bang Rosyid yang berlari-lari menyusulku.
“Hei! Karim! tunggu sebentar!”
“Ada apa, bang?” tanyaku dalam nada yang dibuat-buat sangat sabar.
“Maafin abang, Karim semalam jadi ke saung?” tanya Bang Rosyid.
“Enggak bang. Karim ketiduran,” jawabku berbohong.
“Abang mau bicara, kita ke saung..” ajak Bang Rosyid tanpa meminta persetujuanku. Kemudian dia berjalan masuk ke dalam kebun. Aku terpaksa mengikutinya.
Saat tiba di saung, Bang Rosyid langsung meletakkan topinya dan memelukku.
“Eh, abang! masih siang! nanti kalau Kak Yus atau orang lihat gimana?” tolakku panik.
“Yus lagi pulang ke rumah orangtuanya, saung abang jauh dari jalan… nggak ada yang berani ke sini..” kata Bang Rosyid sambil memelukku kembali.
“Bang…” kataku.
“Abang kangen Karim…” gumam Bang Rosyid. Tiga kata itu berhasil membuatku luluh kembali dalam pelukannya. Aku seolah lupa pada kekecewaan dan kemarahanku.
Bang Rosyid lalu membuka kancing seragamku satu persatu. Awalnya dia hendak membuka seragamku, namun niatnya urung. Aku hanya pasrah saat Bang Rosyid mengambil kendali permainan sore itu. Dilumatnya bibirku beberapa lama. Kemudian cumbuannya bergeser dan dengan lidahnya Bang Rosyid membuatku melayang keenakan saat dia mempermainkan putingku.
“Umm…..” gumamku keenakan sambil menggigit bibir.
Bang Rosyid lalu menarik celana panjangku dan melepasnya. Dia sendiri membuka kancing celana pendeknya dan kembali menindihku.
Aku terkesiap saat jari Bang Rosyid menyentuh lubang anusku dan mengurutnya pelan. Aku agak khawatir karena Bang Rosyid sepertinya sedang bernafsu dan terburu-buru ingin menyetubuhiku. Aku khawatir Bang Rosyid akan memaksaku menerima kehadiran penisnya tanpa pelicin yang cukup.
Tapi rupanya Bang Rosyid telah mempersiapkan segalanya. Diambilnya satu sachet pelumas kemasan dan dengan cekatan dikeluarkan isinya untuk melumuri penisnya yang sudah tegang itu. Sebagian lagi pelumas itu dioleskannya pada jarinya dan diusap-usapkannya pada lubang anusku.
“Hmm..” gumamku merasakan sensasi dingin gel pelumas yang ada di tangan Bang Rosyid.
“Abang masukkin ya?” pinta Bang Rosyid.
Aku mengangguk setuju berusaha membuat anusku rileks dengan menatap wajah Bang Rosyid penuh cinta dan kepasrahan. Kurangkulkan tanganku pada leher kekar Bang Rosyid.
Tak lama, aku memekik pelan ketika kepala penis Bang Rosyid mulai memasukki lubang anusku.
“Engghh…” erangku sambil mencoba mengatur nafas. Untungnya pelumas itu cukup membuat penis Bang Rosyid leluasa masuk tanpa terlalu menyakitiku.
“Abang sayang sama Karim… cuma Karim yang bikin abang ngaceng sekarang…” kata Bang Rosyid. Tentu saja dia hanya menggombal karena aku melihatnya bersemangat menyetubuhi istrinya tadi malam. Tapi aku membiarkan diriku terbuai rayuannya.
“Iya bang… Ngghh…” kataku sambil terus membiasakan anusku kembali disesaki oleh batang penis Bang Rosyid.
Rupanya Bang Rosyid benar-benar ingin menunjukkan bahwa akulah yang dia inginkan. Hentakkan pinggangnya begitu kuat dan bersemangat membuat penisnya melesak masuk sangat dalam di dalam tubuhku.
“Huffh.. hhh.. hh..” desahku mencoba mengimbangi permainan Bang Rosyid yang beringas.
“Enak? Hah?” godanya sambil tersenyum nakal ketika melihatku terus mendesah sambil mulutku terbuka.
Aku mengangguk. Bang Rosyid semakin beringas menghujamkan penisnya dalam anusku. Diangkatnya pinggangku dan dengan dorongan kuat berkali-kali digenjotnya pantatku sambil menggeram.
“Ouhh.. bang.. nggh…” tanpa menyentuh penisku, aku tak tahan lagi hingga mencapai puncak orgasme akibat tekanan demi tekanan batang penisnya pada prostatku. Sadar aku telah mencapai orgasme, kini Bang Rosyid berkonsentrasi pada kepuasannya sendiri. Dia mempercepat gerakannya hingga aku yang telentang di atas kayu pasrah terlonjak-lonjak mengikuti gerakannya.
Bang Rosyid melenguh panjang. Aku memekik pelan ketika semburan sperma Bang Rosyid di dalam anusku berkali-kali terasa panas dan menimbulkan sensasi gelenyar di seluruh tubuhku hingga aku merinding. Aku terkulai lemas dan membiarkan Bang Rosyid menciumi leher dan dadaku pelan-pelan seakan berterima kasih padaku telah memuaskan birahinya siang itu.
Setelah kami berpakaian, Bang Rosyid berkata padaku.
“Abang tahu kondisinya lagi sulit. Enggak mungkin Abang tinggalin Kak Yus begitu aja. Tapi Abang juga enggak bisa ninggalin Karim..”
Buaya darat. Begitu pikirku dalam hati. Tapi aku jatuh cinta pada buaya darat ini dan menyetujui permintaannya agar aku tak menjauhinya.
“Iya Bang.. Abang juga harus ngerti. Karim sekarang lagi konsentrasi sama ujian. Jadi… Karim enggak maksa juga ketemu terus sama Bang Rosyid. Setidaknya sampai masa ujian lewat,” kataku.
Bang Rosyid tersenyum dan mengecup keningku.
Saat aku tiba di rumah, kulihat Nenek sedang duduk di teras sambil menangis. Aku bergegas menghampirinya.
“Loh, Nek? ada apa?” tanyaku khawatir.
“Rim.. tadi ibu kamu.. ibu kamu datang ke sini..” kata nenek.
“Ibu..? mau apa dia, Nek? sejak dia nikah sama pejabat itu, dia udah lupain Karim sama Nenek. Padahal Nenek orangtuanya ibu…” tanyaku gusar.
“Ibu kamu tadi datang.. dia bilang mau ajak kamu ke kota setelah lulus.. kalau kamu enggak mau, ibumu akan maksa…” raung nenek.
“Karim enggak mau, nek! Karim enggak mau ikut ibu! Karim bakal di sini terus temenin nenek!” kataku berusaha menenangkan nenek dengan memeluknya.
Ah, ada apa lagi sekarang? pikirku dalam hati sambil menghela nafas.
***
Hari ujian akhir telah tiba. Aku sedikit lebih tenang karena pikiranku kepada Bang Rosyid teralihkan oleh belajar dan belajar menghadapi ujian. Aku bersungguh-sungguh agar bisa lulus dan bercita-cita untuk meneruskan kuliah yang kampusnya tak jauh dari kampungku.
Sesekali aku masih bertemu dengan Bang Rosyid. Memang tidak melulu berakhir dengan seks. Tapi aku senang Bang Rosyid memperhatikanku dan menyayangiku seperti aku adalah kekasihnya. Kebahagiaanku bertambah ketika aku lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Aku berniat memberitahukan Bang Rosyid dan nenek kabar gembira itu.
Sore harinya menjelang maghrib, aku tiba di rumah. Seragamku sudah penuh dengan coretan spidol warna-warni tanda-tangan teman-temanku. Wajahku sumringah hendak mengabari berita kelulusanku pada Bang Rosyid yang sedang duduk di teras rumahnya. Wajahnya terlihat aneh.
“Bang! Karim lulus!” sahutku.
Bang Rosyid menatapku sekilas dengan senyum yang dipaksakan. “Oh ya? selamat ya Karim..”
“Loh, kok? abang lesu gitu? kenapa?” tanyaku penasaran.
Bang Rosyid menghela nafas.
“Abang baru denger kabar, Rim. Yus.. Yus hamil, Rim… Abang bakalan punya anak..” katanya sambil memandang sedih padaku tapi tetap mencoba terus tersenyum.
-bersambung-

Read More →

 

Copyright © 2012 HEAVEN OF MEN | Powered by Blogger