Video Satpam Bali

video

Read More →

Bapak Kalimantan




Read More →

Toilet Umum






Read More →

Ajisaka Danial








Read More →

Outdoor










Read More →

Indonesian





  

Read More →

Mas Bima Polisiku #5

AKU masih menunggu Mas Bima menjelaskan soal kabar kurang bagus yang hendak dia ceritakan.
“Kabar apaan sih, Mas?” tanyaku lagi.
“Mas mau… ehm, Mas ada rencana ditugasin untuk pendidikan selama setahun di kota lain…” ujar Mas Bima pelan.
“Apa? bukannya Mas Bima baru ditugasin di sini ya?”
“Secara teknis, Mas masih ditugasin di sini. Tapi Mas ditunjuk untuk ikut pendidikan, otomatis Mas enggak tugas di sini sementara, tapi tinggal di mess selama pendidikan.”
“Jadi, Mas mau pergi gitu?” tanyaku hampir menangis.
“Iya, Fin…” jawab Mas Bima lemah.
“Mas Bima jahat, kenapa baru bilang setelah aku mau buka hati lagi buat Mas? padahal bakal jauh lebih mudah kalau tadi Mas enggak ngerayu aku soal perasaan enggak enak ke Mbak Tika…” ujarku sambil bangkit dari ranjang dan memunguti pakaianku.
“Fin…” panggil Mas Bima. Tubuhnya yang masih telanjang dan tertutup selimut bagian bawah pinggangnya berusaha meraih tanganku.
“Pulang aja mas, aku mau ke kamar mandi dulu…” jawabku datar.
Mas Bima menghela nafas dan menjatuhkan tubuh kekarnya kembali ke atas ranjang.
****
Setelah selesai membersihkan badan, aku langsung keluar kamar menuju tempat Mas Bima memarkir motornya. Aku merapatkan jaket. Sepertinya udara pegunungan makin menggigit, atau mungkin perasaanku saja yang sedang murung.
Sepanjang perjalanan menuju kost, aku tak bicara. Mas Bima pun sepertinya tak ingin memulai percakapan denganku. Hingga kami tiba di kost-an, Mas Bima memberanikan diri untuk bicara.
“Findra… Mas minta kamu ngerti,” ujarnya.
“Udah hampir pagi, Mas. Mendingan Mas pulang aja daripada ngantuk,” dengan kejam aku mengusirnya.
“Enggak! Mas mau tidur di sini,” ucap Mas Bima galak. Dia memaksa masuk kamarku dengan mendorong pintu dan masuk tanpa meminta persetujuanku.
“Yaudah. Terserah mas ajalah…” kataku muram.
Aku kemudian melepas jaketku dan naik ke atas ranjang. Mas Bima melakukan hal yang sama. Aku tidur membelakanginya. Aku merasakan Mas Bima memelukku. Hembusan nafasnya yang hangat terasa di tengkuk. Aku tak bereaksi. AKu membiarkan pelukannya dan bertingkah seperti sebuah batu. Aku pun tertidur sambil menangis.
****
Udara hangat pagi menjelang siang membangunkanku. Aku mengusap wajahku dan membetulkan rambutku yang acak-acakan. Aku menoleh ke samping, ternyata Mas Bima sudah tak lagi ada di sebelahku. Aku menghela nafas dan dengan malas aku turun dari ranjang dan menuju cermin. Ah, mataku bengkak. Pasti karena menangis. Jangan cengeng, Fin! kataku dalam hati.
Aku memeriksa ponselku. Mas Bima rupanya mengirimkan pesan singkat. “Mas pulang dulu. Enggak tega bangunin kamu. Hubungi Mas ya? kita bicarakan lagi.”
Aku melempar ponselku ke atas ranjang. Apa lagi yang mau dibicarakan jika akhirnya tak ada yang berubah: Mas Bima tetap akan pergi. Aku memang tidak mengharapkan bertemu Mas Bima lagi sejak kejadian pertama kali. Tapi kedatangannya setelah setahun seperti melambungkan harapanku lagi sekaligus mengempaskannya ke aspal yang keras. Apapun ucapannya tidak akan bisa membuatku menerima keputusan itu dengan lapang dada.
****
Sudah tiga hari sejak peristiwa di gunung itu. Aku bersikeras tak ingin menghubungi Mas Bima. Mas Bima pun tumben tidak menelepon atau mengirim sms padaku. Sebenarnya aku kangen, tetapi rasa gengsiku mengalahkan segalanya.
Tapi semuanya berubah. Sore itu Mas Bima mengirim sms yang memberitahukan hari keberangkatannya pada akhir pekan. Itu artinya Mas Bima dua hari lagi berangkat.
Aku menelepon Mas Bima.
“Tumben…” kata itu yang pertama dia ucapkan saat menerima teleponku.
“Kenapa, Mas? Mau dibantuin?” ujarku mencoba terdengar bersikap tenang.
“Kalau bisa sih, barang-barang Mas di rumah kontrakan ini perlu dirapihin. Karena di mess tidak ada perabotan, terpaksa Mas bawa sebagian besar,” ujar Mas Bima.
“Mas enggak tugas?” tanyaku.
“Enggak Fin. Kamu ada kuliah?” tanya Mas Bima balik.
“Baru pulang Mas. Rumah Mas di mana? Biar aku bantuin beres-beres,” tawarku.
Aku mendengarkan dengan seksama petunjuk arah dan patokan menuju rumah Mas Bima. Merasa kenal dengan daerah itu, aku menyanggupi untuk datang ke rumahnya.
****
Aku mendorong motorku di depan teras rumah kontrakan yang kupastikan adalah rumah Mas Bima. Setelah meletakkan helm, aku membetulkan rambutku yang acak-acakan dan mengetuk pintu rumahnya.
Pintu rumah itu terbuka. Mas Bima keluar dengan hanya mengenakan celana pendek. Dari lehernya menetes sedikit keringat. Sepertinya dia sedang beres-beres. Aku mengalihkan wajahku yang memerah karena melihat tubuh Mas Bima sambil berdeham.
“Masuk Fin…” ajak Mas Bima. Dia membuka pintu lebar-lebar mempersilakan aku masuk.
Aku membuka tali sepatu ketsku dan melepas kaus kaki sebelum masuk. Rumah kontrakan Mas Bima cukup luas dengan dua kamar dan sebuah dapur. Sepertinya memang Mas Bima sedang merapikan barang-barang yang akan dibawanya. Beberapa tumpukan barang sebagian telah diikat rapi, sementara banyak yang masih perlu disusun.
“Aku bantuin dari mana nih, Mas?” tanyaku.
“Santai dulu aja Fin, ambil minum dulu gih di kulkas,” perintah Mas Bima sambil mengikatkan tali rapia pada sebuah tumpukan buku.
Aku menuruti anjuran Mas Bima dan mengambil sebotol minuman dingin dari kulkas. Memang sore itu cukup panas dan aku kehausan.
“Mas?” panggilku.
“Ya, Fin?” sahut Mas Bima tanpa menghentikan pekerjaannya.
“Udah enggak bisa dirubah ya rencananya?” tanyaku muram.
Mas Bima menghentikan usahanya mengencangkan tali dan menghela nafas. Diapun menoleh ke arahku.
“Enggak Fin… maafin mas ya?” ujarnya sambil mendekat ke arahku.
Aku membiarkan Mas Bima memelukku sambil mencium pipiku mesra. Aku kembali merasa meleleh dalam pelukan tubuh kekarnya yang memang sangat menggoda itu.
“Semoga ini yang terbaik buat Mas dan keluarga. Dipercaya ikut pendidikan itu bukan main-main, Mas…” kataku mencoba membesarkan hati.
Mas Bima mengangguk sambil tersenyum. “Kalau memang kita harus ketemu lagi, kita ketemu… sementara itu, Mas enggak ngelarang kamu bergaul sama cowok lain. Kamu masih muda Fin,”
“Mas… janji ya?” kataku.
“Janji apa?”
“Jangan nakal sama cowok lain di Mess…” pintaku manja.
Mas Bima terbahak. “Susah Fin, emangnya kamu pikir gampang apa berhubungan sama cowok? apalagi Mas ini Polisi. Bahaya kalau sampai sembarangan.”
“Iya, Mas. Enggak rela aja…” ujarku sambil mengetatkan pelukanku dan menikmati setiap lekukan otot-otot tubuhnya. Sungguh, sebenarnya Mas Bima akan sangat mudah mencari cowok manapun dengan fisik dan ketampanannya. Itulah sebabnya, memikirkannya saja aku tak rela dan cemburu.
Mas Bima terdiam. Dia mengangkat wajahku dan menatapku. Sebuah ciuman lembut dan lama dia daratkan pada bibirku. Aku membalasnya dengan lelehan air mata. Inikah perpisahan itu?
Mas Bima merangkul pinggangku dan menuntunnya ke kamarnya. Berkali-kali aku menciumnya dengan mesra seolah tak ingin berpisah dengan bibir itu selamanya.
Dengan lembut Mas Bima membimbingku membuka seluruh pakaianku. Setelah sama-sama bertelanjang dada, kami kembali berangkulan dan berciuman mesra. Aku merinding saat dada bidang Mas Bima dan putingnya menekan dadaku. Mas Bima menciumi leherku dan pundakku seolah tak ingin membiarkan sesentipun lolos dari cumbuannya. Tapi kali ini aku ingin yang mengambil kendali. Aku ingin melakukan apa yang ingin kulakukan sebelum tak bisa menemuinya lagi.
Kurebahkan tubuh Mas Bima di atas ranjang. Mas Bima sepertinya tahu aku ingin mengambil kendali. Dia tersenyum dan mengangkat tangannya dan berpegangan pada besi pinggiran ranjangnya hingga ketiaknya yang berbulu rapi itu terekspos jelas.
Aku menciumi Mas Bima mulai dari perut sixpacknya, bergeser hingga dadanya. Seperti biasa aku berikan servis lidah terbaikku untuk melumat dada bidang dan puting kecoklatannya itu hingga Mas Bima menggelinjang dan mengerang. Dengan ujung jari telunjukku yang kubasahi dengan liur, kutekan dengan gerakan memutar puting Mas Bima. Sesekali kuhisap dan kugigit lembut bergantian dengan gerakan jariku.
“Ssssh.. bangke… enak banget Fin….” racau Mas Bima.
Aku pun sepertinya. Tak ingin melewatkan sesenti pun bagian tubuhnya untuk aku cumbu. Aku menghirup dalam-dalam aroma tubuh Mas Bima yang wangi cologne maskulin bercampur dengan aroma alami tubuhnya. Tak tahan, aku menjilat ketiak Mas Bima dan menciumi tonjolan otot lengan bisep dan trisepnya bergantian. Aku memang mengagumi pria ini. Lambang kejantanan pria lengkap dengan profesinya sebagai polisi dan seragamnya yang membuatnya makin gagah.
Mas Bima melenguh. Aku pun mencium bibirnya dengan lembut dan lama. Lalu aku melepas celana pendek Mas Bima. Penisnya yang sudah nyaris tegang sempurna itu kuusap dan kukocok perlahan. Dengan lidahku kusapu seluruh batang penis itu hingga basah mengilap. Mas Bima bergumam sambil menggerak-gerakan kakinya. Mungkin sedang menikmati perlakuanku. Tangannya masih berpegangan pada besi ranjang.
Aku melahap penis Mas Bima dan mengulumnya dengan gerakan cepat dan bernafsu. Kuhisap kuat hingga kupikir Mas Bima akan merasakan tekanan pada penisnya dan bisa membuatnya keenakan. “Fin…” desahnya sambil menengadahkan kepalanya ke atas dan memejamkan mata.
Kujulurkan lidahku dan kusapu dari buah zakarnya dengan tekanan konstan bergerak ke atas hingga kepala penis Mas Bima. Kusapukan lidahku dengan gerakan melingkar pada kepala penis itu dan kuberikan bonus dengan memberikan rangsangan tepat pada lubang kencingnya. Kudengar Mas Bima mendesis-desis sambil sesekali tubuhnya menegang.
Setelah cukup lama aku bermain-main dengan penisnya yang sudah sangat basah, aku melepas celanaku dan menghimpit kedua pinggangnya dengan pahaku. Aku ingin Mas Bima menjelajahi diriku dengan posisiku di atas tubuhnya. Aku kemudian menurunkan pinggangku hingga penis Mas Bima melesak masuk ke dalam anusku.
“Aaaaah…” desah Mas Bima keenakan. Aku masih ingin mengambil kendali atas Mas Bima. Itulah sebabnya kemudian aku menggoyangkan tubuhku di atas tubuhnya sehingga membuat penis Mas Bima ikut bergerak seirama dengan tubuhku.
“Aaah.. aaah…” Mas Bima terus mendesah ketika penisnya yang melesak di dalam anusku terasa nikmat oleh jepitan pantatku.
Kemudian aku berpegangan pada perut Mas Bima dan mengambil posisi berjongkok. Lalu aku bergerak cepat naik turun hingga penis Mas Bima keluar masuk anusku berkali-kali.
Giliranku yang mengerang menikmati batang penis Mas Bima yang kubuat mengentotiku berkali-kali dengan gerakanku.
“Oh.. oh.. ohh…. kontol Mas Bima emang hebat…” aku meracau.
“Terus Fin… terus.. enak…” ujar Mas Bima sambil merengkuh kedua pantatku dan meremasnya sambil terus memerhatikan penisnya yang keluar masuk lubang anusku.
Tenagaku hampir habis. Aku kemudian melengkungkan punggungku ke belakang dan bertumpu pada lututnya. Kubiarkan Mas Bima mengambil kendali. Dia kemudian mengangkat pantatku sedikit hingga dia leluasa mengambil alih menusuk anusku berkali-kali. Dengan kecepatan sepeti mesin, Mas Bima berkali-kali menghujamkan penisnya hingga tubuhku ikut terlonjak-lonjak di atas tubuhnya.
Hantaman demi hantaman batang keras Mas Bima membuatku hilang kendali. Rintihan kenikmatan keluar dari mulutku. Tubuhku masih terlonjak-lonjak seiring dengan tusukan Mas Bima yang berada di bawahku.
Mas Bima menggeram sambil mencengkeram betisku kuat-kuat. Sungguh hebat stamina pria ini. Aku mengocok penisku dan tak lama menyemburkan sperma yang memancar ke atas dan jatuh sebagian pada perut Mas Bima. “Aaaaaaaah….” pekik aku keenakan.
“Aaaaarggh…..” Mas Bima mengerang saat dia pun hendak keluar. Dengan sekali hentakkan keras, dia mengangkat pantatnya tinggi-tinggi dan membiarkannya agak lama sehingga penisnya melesak dalam-dalam pada terowongan anusku. Kurasakn penis Mas Bima berdenyut-denyut sebelum memuntahkan kembali isinya, yaitu cairan sperma hangatnya yang terasa membanjiri anusku.
“Oooooouuuuh….” desahku dan Mas Bima bersahutan.
Aku kemudian menjatuhkan diriku ke atas tubuh Mas Bima dan menciumi tubuhnya yang semakin berkeringat.
****
Seks itu merupakan seks perpisahanku dengan Mas Bima. Setelah membantunya berkemas, aku ditraktirnya makan. Malam itu kami berkencan semalaman di luar. Aku kini lebih bisa merelakan dirinya pergi walau masih sedikit berat.
“Makasih ya Mas…” kataku sambil melepas pergi Mas Bima yang mengantarku hingga kost. Mas Bima mengangguk sambil tersenyum. Kupeluk Mas Bima dan menciumnya lembut. “Semoga sukses pendidikannya Mas…” kataku memberinya semangat. Setelah mengucapkan perpisahan, Mas Bima berpamitan.
Akupun menghempaskan tubuhku ke atas ranjang. Merasa sedih namun bercampur bahagia. Baru saja aku hendak melihat sudah jam berapa sekarang, aku baru sadar tak lagi mengenakan arloji. Apakah tertinggal di rumah Mas Bima? Entahlah. Aku tidak memikirkannya. Perpisahan Ini yang terbaik.. ini yang terbaik.. entah untukku, untuk Mas Bima, atau untuk keluarganya, ujarku dalam hati.
Hari Minggu ini adalah hari keberangkatan Mas Bima. Sepertinya Mas Bima diantar oleh beberapa kawannya di kesatuan. Aku sengaja tak mengantarnya karena memang akan terlihat aneh jika aku berada di sana. Baru saja aku hendak mengucapkan selamat jalan dan berhati-hati melalu pesan teks, Mas Bima lebih dulu mengirimkan sebuah file catatan.
“Findra, walau pertemuan kita ternyata sangat singkat, Mas enggak bisa menyangkal kalau kamu udah jadi bagian spesial dari Mas. Maaf karena selama ini Mas berbagi dengan kau dan Mbak Tika. Salah ataupun benar, Mas hanya berpikir kalau Mas tidak bisa jauh dari kamu Fin. Seandainya tidak ada penugasan untuk pendidikan ini mungkin kita bisa lebih lama bersama-sama. Mas pasti kangen sama Findra. Tapi Mas juga enggak mau jadi halangan untuk kamu berkenalan dengan orang lain. Semoga ada orang yang bisa bahagiakan kamu. Oh iya, waktu itu arloji kamu tertinggal…”
Aku belum sempat menyelesaikan kalimat selanjutnya dari surat Mas Bima ketika perhatianku teralihkan oleh suara ketukan di pintu. Aku berjalan dan membuka pintu dan agak terkejut karena ada seorang pria berseragam polisi berdiri sigap di depan kamarku.
“Ya?” tanyaku. Polisi itu berwajah tampan namun sepertinya agak canggung dan agak menundukkan kepalanya. Tubuhnya kekar seperti Mas Bima hanya saja sepertinya dia beberapa tahun lebih muda dari Mas Bima. Cambangnya dan alisnya yang tebal membuat pak polisi ini terlihat makin gagah.
“Findra? saya umm.. saya dititipkan sesuatu oleh Mas Bima sebelum dia berangkat…” katanya sambil mencari-cari sesuatu dengan gugup di jaketnya.
Aku terpana melihat dia mengeluarkan sebuah arloji yang kukenali sebagai milikku. Dia mengulurkan benda itu padaku dan aku menerimanya.
“Oh! jam tangan saya… terima kasih ya, udah repot-repot nganterin.” Kataku.
“Oh, iya, ehm.. sama-sama… kalau begitu.. saya permisi dulu…” kata Pria itu canggung berpamitan.
Aku mengangguk. Kemudian begitu kulihat polisi itu melangkah meninggalkanku, cepat-cepat kuselesaikan surat dari Mas Bima.
“…jadinya saya titip teman saya yang bernama Arjuna untuk nganterin arloji kamu ke sana. Oh iya, dia suka antusias kalau aku bicara soal kamu Fin. Sepertinya dia pengen sekali kenalan sama kamu. Kalau kamu bertanya apa dia… hmm.. mungkin. Sepertinya kita tahu sama tahu, dan selera dia juga sama seperti Mas. Brondong kayak kamu. hahaha.. Tolong Fin, kalau dia datang, ajak saja kenalan. Dia agak pemalu soalnya. Itu saja dari Mas. Semoga kuliah kamu cepat selesai dan cepat jadi orang sukses ya.. Salam sayang, Mas Bima..”
Aku meneguk ludah. Jadi polisi tadi namanya ARJUNA? Aku buru-buru keluar kamar mengejarnya. Syukurlah dia masih terlihat berjalan menuju gerbang depan.
“Pak! eh, Mas.. Mas! Mas Arjuna!” Rupanya ketika aku menyebut namanya, hal itu berhasil menghentikan langkah polisi muda itu.
“Ya?” tanyanya canggung.
“Emm.. terima kasih ya udah repot-repot antar. Oh iya, nama saya Findra, adik sepupunya Mas Bima,” kataku sambil mengulurkan tangan.
“Oh.. iya.. ehm.. nama saya Arjuna,” katanya sambil membalas jabatan tanganku dengan jabat tangan yang tegas dan tanpa ragu.
“Teman Mas Bima teman saya juga… Salam kenal ya? oh iya, saya masih baru di kota ini. Kalau enggak keberatan, kapan-kapan kita jalan sama-sama, aku mau kunjungin tempat wisata di sini,” tawarku simpatik.
“Benar? Oh, eh.. ehm.. oke Fin, nanti hubungin saya aja.”
Aku menahan tawa saat melihat reaksi antusias Arjuna namun buru-buru dia kembali menjaga sikapnya. “Handphone,” kataku sambil mengulurkan telapak tangan meminta ponselnya.
Arjuna mencari-cari ponselnya dan menyerahkannya padaku. Sambil tersenyum aku menekan tombol pada ponselnya dan ponselku berdering. Kemudian aku mengembalikan ponselnya.
“Disimpan ya nomornya, itu nomorku… Sampai ketemu,” ujarku sambil berpaling hendak kembali ke kamar.
“Oh, oke.. makasih.. nan.. nanti saya hubungi…” kata Arjuna masih canggung.
Aku mengangkat ibu jariku dan mengangguk padanya sambil tersenyum.
Hmmm… apakah artinya dia bisa menjadi MAS ARJUNA, PAK POLISIKU? Membayangkan itu saja aku tiba-tiba merasa senang. Terima kasih, Mas Bima… sudah mengirimkan pengganti Mas yang tidak kalah tampan, gumamku dalam hati.
(TAMAT)
Bonus:
“Action!” teriakku dari atas ranjang. Tapi dari kamar mandi tidak ada seorang pun yang muncul.
“Action!” sahutku sekali lagi. Tak lama keluarlah seorang pria berpakaian seragam polisi. Gagah, tampan, dan sengaja membiarkan dua kancing seragamnya terbuka sehingga tampak nakal.
“Kamu tahu apa kesalahan kamu?” tanyanya galak.
“Eh.. ehm.. ampun Pak Polisi Juna.. saya.. saya… cuma masuk ke halaman rumah ini untuk ambil bola saya…” kataku pura-pura ketakutan.
“Ambil bola? tapi pemilik rumah bilang kamu mencuri buah plum dari pagarnya!” kata polisi bernama Arjuna itu galak.
“Ampun pak.. jangan tangkap saya… saya enggak niat buat makan buahnya…” kataku sambil berlutut di depannya.
“Buka baju kamu! kamu harus dihukum…!” kata polisi itu lebih galak.
Aku menuruti keinginannya dan melepas kausku.
“ADA APA INI??!”
Tiba-tiba sebuah suara mengejutkan kami berdua. Seorang pria lain berseragam polisi menghampiri kami berdua. Dia memakai seragam seperti Mas Juna dengan dua kancing teratas yang sengaja di buka.
“Ini Pak Bima… saya menangkap anak ini. Dia mencuri buah dari rumah pak pejabat. Saya mau hukum dia..” kata Mas Juna pada polisi satunya yang ternyata adalah Mas Bima.
Mas Bima mengangguk-angguk dengan senyuman licik.
“Anak ini memang harus diberi pelajaran. Saya bantu kamu beri hukuman supaya dia jera…” kata Mas Bima dingin.
“Oke. Mari kita kasih anak ini pelajaran…” kata Mas Juna kejam.
Kemudian Mas Bima dan Mas Juna masing-masing memegang lenganku dan mengangkat tubuhku yang sedang berlutut serta melemparku ke atas ranjang.
Aku memekik gembira tatkala melihat Mas Bima dan Mas Juna di hadapanku melepas seragam polisi mereka secara bersamaan sambil tersenyum licik dan menatapku penuh nafsu….

Read More →

Mas Bima Polisiku #4

SEJAK peristiwa tak diangkatnya telepon dari Mbak Tika, istri Mas Bima, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Mulai saat itu, setelah Mas Bima pergi dari kost-an ku, aku mulai enggan menghubunginya. Beberapak kali Mas Bima mencoba meneleponku, namun aku malas mengangkatnya. Pesan singkatnya juga malas-malasan kubalas. Sungguh, aku merasa tak enak dengan Mbak Tika.
Aku masih menekan-nekan remote televisi tak tahu acara apa yang akan aku tonton. Pikiranku sedang melayang ke mana-mana. Di satu sisi, aku sangat merindukan Mas Bima. Sisi lainnya mengusikku bahwa aku seharusnya tak menghubunginya lagi jika masih sayang dengan Mbak Tika. Tapi.. bagaimana kalau misalnya Mas Bima ternyata mencari ‘tambatan lain’ untuk melabuhkan penisnya. “Aaarrrghh….” aku mengacak-acak rambutku sendiri ogah membayangkan Mas Bima bersama lelaki lain. Cemburu! sangat cemburu.
Tak lama terdengar ketukan pintu. Aku melirik jam dinding, sudah hampir jam 11 malam. Siapa yang datang selarut ini? apakah Mas Bima?
Dugaanku memang benar. Mas Bima sudah ada di depan kamarku. Memakai kaus hitam ketat dan jaket kulit serta celana seragamnya lengkap dengan ikat pinggang senjatanya dan tak ketinggalan sepatu lars berat hitam miliknya. Aku tak bisa menebak apakah Mas Bima yang tampak gagah ini sedang bertugas atau tidak.
“Oh, Mas.. masuk, Mas…” aku mempersilakan masuk Mas Bima dengan kalimat yang sangat tidak antusias. Mas Bima pun merasakan itu.
“Kamu kenapa sih, Fin?” tanya Mas Bima.
Aku mengangkat bahu tanpa sepatah katapun.
“Kamu lagi marah sama saya?” tanya Mas Bima lagi.
Aku malas membicarakan masalah ini. Aku pun menyembunyikan wajahku pada bantal.
“Mmm..mumm..mummm!” kataku. Suaraku tak terdengar jelas karena wajahku membekap bantal.
“Apaan? kalau ngomong yang jelas dong, Fin!” ujar Mas Bima sambil menarik bantal dari wajahku.
“Aku enggak mau ketemu Mas Bima lagi…” kataku lirih menahan tangis.
“Loh, kenapa? katanya kamu sayang sama Mas?”
“Aku.. kejadian kemarin… aku enggak enak sama Mbak Tika, mas..”
Mas Bima menghela nafas. Dia tak menjawab. Mas Bima malaha n menarik tanganku hingga aku bangkit dari ranjang.
“Yuk! ikut Mas jalan. Kamu kelamaan di kamar kosan kayaknya butuh udara segar,” ajak Mas Bima.
“Malas, Mas…” aku berusaha menolak ajakan Mas Bima.
“Ambil jaket kamu!” perintah Mas Bima. Akupun bersungut-sungut menuruti keinginannya walau tak ingin pergi.
Aku menyadari kalau Mas Bima sedikit kesal. Dari sejak aku mengunci kamarku, Mas Bima berjalan duluan tanpa menungguku menuju tempat parkir. Dia tak bicara apa-apa bahkan tak menatapku saat menyerahkan helm cadangan padaku. Ada sedikit amarah ketika dia menstarter-kaki motor Ninja hitamnya, sehingga saat aku dibonceng oleh Mas Bima, aku enggak merangkul pinggangnya.
“Mau ke mana kita, Mas?” teriakku mencoba mengalahkan suara mesin motornya.
“Ke gunung! kita butuh udara segar!” sahut Mas Bima.
Entah gunung mana yang dia maksud. Aku tak banyak bertanya lagi dan pasrah saja ikut kemana Mas Bima membawaku pergi.
Selama hampir sejam, Mas Bima memacu motornya ke daerah yang belum pernah aku kunjungi. Kurasakan jalanan semakin menanjak dan rumah-rumah semakin jarang. Udara dingin mulai menggigit sehingga aku merapatkan jaketku. Mas Bima semakin memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi sehingga mau tak mau aku memeluk pinggannya untuk berpegangan.
Tak lama, motor Mas Bima berhenti pada sebuah kedai gubuk di pinggir jalan. Aku mencium bau jagung bakar mentega menguar dari salah satu panggangan yang sedang dikipasi oleh seorang bapak tua.
Mas Bima berseru pada bapak tua itu. “Pak! jagung bakar dua, sama kopi.. ng.. kamu mau kopi?” tanya Mas Bima padaku.
Aku menggeleng. Aku bukan seorang penikmat kopi, tapi tadi kulihat ada kalimat “bandrek” pada sebuah papan berisi tulisan menu yang disediakan. Jadilah aku memilih bandrek.
“Bandreknya satu, pak!” ujar Mas Bima.
Si Bapak tua itu mengangguk. Entah mengapa ada wajahnya seperti sedikit cemas. Dari tadi dia mencuri-curi pandang pada Mas Bima.
“Yuk!” ajak Mas Bima. Aku mengikutinya yang berjalan masuk ke dalam pondok bambu itu.
Rupanya di dalam pondok bambu itu terdapat tempat lesehan memanjang yang langsung berbatasan dengan tebing curam. Dengan bukaan jendela yang juga memanjang, pembeli jagung bakar yang menikmati hidangannya mendapatkan pemandangan menakjubkan: kelap-kelip lampu kota di kejauhan. Aku pun mau tak mau menarik nafas melihat pemandangan indah itu. Ah, Mas Bima.. bisa saja dia mengajakku ke tempat romantis seperti ini.
Di dalam tempat lesehan itu ada empat buah meja. Dua di antaranya ditempati oleh sepasang kekasih, dan tiga orang pria pengendara yang sepertinya beristirahat dari perjalanan panjang.
Aku benar-benar terpesona oleh pemandangan kota di lembah bukit kejauhan sehingga aku mengabaikan keberadaan Mas Bima selama beberapa saat sampai dia menegurku.
“Jadi, kenapa telepon saya enggak pernah kamu angkat?” tanya Mas Bima.
Aku pun teralihkan dan menoleh pada Mas Bima dan kembali menunduk murung.
“Kemarin itu.. waktu Mbak Tika nelepon, aku bener-bener merasa enggak enak Mas…” ujarku.
Mas Bima mendengus sambil tersenyum.
“Fin… Mas kasih tahu, ya. Yang namanya berkeluarga itu selalu seperti itu. Kadang ada drama, tertawa, sedih, bahagia, termasuk anak sakit. Harusnya kamu enggak usah ngerasa bersalah sampai segitunya,” jelas Mas Bima sambil terkekeh.
“Yatapi tetep aja Mas..” Aku menghentikan ucapanku saat si bapak tua itu masuk dan menyerahkan pesanan kami.
“Kenapa sih dia, Mas?” tanyaku penasaran.
“Siapa? bapak tadi?” tanya Mas Bima kembali.
Aku mengangguk. “Dari tadi ngeliatin Mas terus kayak orang curigaan…”
Mas Bima mengangkat bahu. “Enggak tahu tuh Fin.”
“Nah, sekarang jadinya gimana? kamu enggak mau ketemu Mas lagi? bener?” tanya Mas Bima mengembalikan topik pembicaraan.
Aku menunduk kembali. Sebenarnya aku masih ingin terus bersama Mas Bima, tetapi pertentangan batin ini terus terjadi di otakku. Aku meliriknya. Dia tampak lahap sekali menyantap jagung bakarnya sambil sesekali mengirup kopinya. Mas Bima tampak tenang-tenang saja seolah kejadian kemarin tak memengaruhinya sama sekali.
“Mas…” panggilku.
“Makan jagungnya Fin, bandreknya juga jangan sampai dingin. Anget-anget di gunung gini enaknya minum selagi panas,” saran Mas Bima.
Aku pun membatalkan pertanyaanku dan menyeruput bandrek di hadapanku. Hangat.. Nikmat sekali.
“Jadi gimana?” tanya Mas Bima lagi.
“Yaudah, kalau Mas Bima enggak keberatan, ya… aku mau terus ketemu Mas…” ujarku sambil berusaha menahan senyum.
“Gitu dong, mas kan bakalan kangen sama kamu kalau kamu enggak mau lagi sama Mas,” ledek Mas Bima.
Aku tersenyum lebar. Mendadak perutku lapar karena bahagia. Aku pun menyantap jagung bakarku. Enaak…
“Ssst.. Fin, sini..” kata Mas Bima memberi kode padaku agar mendekat.
“Ada apa Mas?” tanyaku heran.
“Mas lagi kepingin nih…” bisik Mas Bima pelan.
“Ih! jadi gimana? mau pulang sekarang?” tanyaku.
“Enggak usah, di sini aja…” kata Mas Bima.
“Hah?” aku heran sambil melihat ke sekeliling. Baru aku sadari, ada beberapa pasang muda-mudi yang masuk ke sebuah pintu di dekat meja lesehan. Aku melongok mencoba mengintip. Rupanya ada beberapa kamar dari bangunan dinding permanen beberapa puluh meter dari pondok itu.
“Ada kamar? serius Mas? Aman?” tanyaku khawatir.
Mas Bima mengangguk mantap “Mas udah tau tempat kayak apa di sini, yuk, kita keluar dulu,” ajak Mas Bima. Aku pun mengikutinya bangkit dari lesehan menuju halaman luar.
“Sori Fin,” bisik Mas Bima.
Sebelum aku sadar akan apa yang hendak Mas Bima perbuat, tiba-tiba dia menekan telapak tangannya tepat pada lambungku hingga aku tiba-tiba merasa mual.
“Hoeeeeek… apa-apaan sih, Mas?” protesku sambil memegangi perutku yang sakit. Untung saja makanan dan minuman yang tadi kumakan tidak sampai keluar.
“Pak! adik saya ini kayaknya masuk angin, kalau saya bawa turun nanti dia bisa tambah parah. Saya pakai kamar satu di sini ya?” sahut Mas Bima pada bapak tua curigaan yang kini semakin tampak khawatir.
“Eh, ehm.. ehm… masih ada kamar kosong gak ya?” gumamnya ragu seolah tak rela Mas Bima menyewa kamarnya.
“Saya yakin masih ada, dan aman sampai pagi,” sahut Mas Bima sambil bertolak pinggang sehingga menyingkap jaketnya dan memperlihatkan sabuk senjatanya.
Melihat itu si bapak tua langsung menghampiri Mas Bima. “Ooh.. ada-ada mas, mari saya antar,” ujarnya gugup sambil berusaha ramah.
Mas Bima melirikku dengan senyum licik penuh kemenangan. Aku memalingkan wajah berusaha menyembunyikan tawa.
“Mari, saya antar…” ujar si bapak tua. Kamipun mengikutinya dari belakang.
Bapak itu mengantar kami pada kamar paling ujung. Mas Bima mengeluarkan dompetnya dan mengambil dua lembar seratus ribuan dan menyerahkannya pada si bapak.
“Oooh, santai aja Mas, tenang aja, enggak usah.. enggak usah..” tolak si bapak ketakutan.
“Ambil pak. Sekalian bayar jagung bakar tadi,” kata Mas Bima sambil menyodorkan uangnya.
“Enggak usah Mas…” tolak si bapak makin memaksa.
“Udah ambil…” Mas Bima yang gemas menarik tangan si Bapak dan menyumpalkan uang itu pada genggamannya.
“Ma.. makasih Mas…” kata si bapak itu sambil membungkuk-bungkuk.
“Jagain motor saya ya!” sahut Mas Bima. Bapak tua itu mengangguk-angguk sambil pergi.
Mas Bima mengajakku masuk. Kamar itu letaknya agak tersembunyi dari kamar lain, tapi tampaknya kamar itu paling luas dan paling bagus di antara kamar lainnya. Entah apa penyebabnya, tapi udara di dalam kamar lebih hangat dari udara dingin pegunungan di luar. Ada sebuah ranjang ukuran queen size dengan sprei putih bersih dan sebuah meja berisi dua botol air mineral dan cermin. Aku pun melepas jaketku.
Mas Bima menutup pintu dan menguncinya. Kemudian dia menghampiriku dan mencium bibirku dengan bernafsu. Aku serasa meleleh menerima ciumannya. Mas Bima melepas jaketnya dan merangkul pinggangku.
“Aku kangen Mas…” bisikku lirih.
Mas Bima tak menjawab. Dia menatapku sayu, bibirnya terbuka seolah tak sabar ingin melahapku. Tak lama dia kembali mencium bibirku. Lidahnya dia masukkan ke dalam mulutku dan menggumul lidahku.
Aku menarik kausnya sehingga Mas Bima bertelanjang dada. “Mas, badannya makin jadi aja…” gumamku lirih memuji tubuh Mas Bima yang semakin berotot karena rajin berlatih di pusat kebugaran.
“Suka?” goda Mas Bima.
Aku mengangguk. Tanpa menunggu lama, aku membuka kaus lengan panjangku dan mulai melumat puting Mas Bima yang menonjol berwarna coklat agak gelap itu.
“Ouw.. shit…” desis Mas Bima sambil menengadahkan kepalanya ke atas ketika merasa keenakan dengan isapan mulutku.
Aku melanjutkan aksiku dan menurunkan risleting celana Mas Bima tanpa melepas sabuknya. Kuturunkan celana dalamnya sehingga penisnya menyembul keluar dari balik risletingnya. Posisi yang agak berbahaya sebenarnya, aku tak ingin penis Mas Bima terjepit risleting, oleh karena itu aku berhati-hati meraihnya.
“Isap Fin…” perintah Mas Bima.
Tanpa dia suruhpun aku memang berniat melahap penisnya yang mulai tegang itu. Dengan sekali gerakan kulumat penis Mas Bima, kukulum, kuhisap, kugigit lembut beberapa kali.
“Aaaah.. Findra…” gumam Mas Bima. Dia pun membuka kaitan celananya dan melepasnya hingga telanjang bulat.
“Mas malam ini mau langsung ngentotin kamu Fin…” pintanya. Rupanya Mas Bima ingin langsung ke menu utama tanpa pemanasan berlebihan. Aku mengangguk.
Mas Bima merebahkanku ke atas ranjang dan membiarkan kedua kakiku tergantung ke lantai sedangkan pantatku berada tepat di pinggiran ranjang.
Mas Bima menarik celana panjangku dan membuat aku telanjang bulat. Dia kemudian menunduk dan menghilang dari pandanganku. Rupanya Mas Bima mengambil botol kecil pelumas dan menuangkan isinya ke telapak tangan. Mas Bima menggosok-gosokan dua telapak tangannya dan menunduk di hadapanku dan mulai meremas-remas dadaku dan memelintir-melintir putingku dengan tangannya yang basah dan dingin oleh pelumas. Aku merinding keenakan sambil mendesah.
Mas Bima tak lama melakukan itu. Lalu dia menghilang lagi dari hadapannku karena dia berlutut. Aku merasa tangan Mas Bima mendorong kakiku hingga terangkat dan lubang anusku terekspos. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya pada belahan pantatku.
“Mas Bimaaa…” aku memekik sambil menggelinjang saat Mas Bima menjilat anusku dengan lidahnya yang basah. Lubang pantatku langsung berdenyut-denyut menerima rangsangan seperti itu. Perlahan Mas Bima menyapu belahan pantatku dan menekan-nekan ujung lidahnya tepat di lubang anusku hingga aku memekik berkali-kali keenakan.
“Mas Bimaaaaa……” ujarku gemetar. Aku mencoba meraih tubuhnya, tapi tangannya yang kokoh tetap memegangi lututku hingga aku tak kuasa melawan perbuatannya.
“Oouuwww.. Mas… Mas…” ujarku sambil terus menikmati goyangan lidah pada pantatku sehingga aku menjadi gila dan sangat terangsang hingga pada satu titik anusku seolah meronta dan memohon tak tahan ingin segera diisi oleh batang penis kokoh milik Mas Bima.
“Mas… masukin mas.. masukin…” rintihku tak tahan. Mas Bima bangkit dan meletakkan kedua kakiku pada bahunya. Dia menuangkan kembali pelumas dan melumuri penisnya. Tanpa ampun dan tanpa proses perlahan-lahan, Mas Bima menghujamkan penisnya tiba-tiba pada anusku. Mendadak perutku terasa penuh. Penuh terisi batang penis yang langsung membungkam anusku yang sedari tadi seolah menjerit memohon untuk dihajar oleh kontol Mas Bima.
“Aaaaaakkh…” erangku sambil berusaha membiasakan diri dengan batang penis Mas Bima pada anusku yang berdenyut-denyut gembira telah dirojok batang sekokoh itu.
Mas Bima mulai melakukan gerakan penetrasi dan menusuk pantatku berkali-kali hingga ranjang itu berkeriat-keriut bergerak-gerak seiring dengan tubuhku yang bergerak juga.
“Hhh… hhh…. hhhh… kontol mas…” desahku menikmati tusukan penis mas Bima hingga aku tak bisa lagi menyebutkan kata-kata untuk mengungkapkan pujianku.
Plok! plok! plok! paha Mas Bima beradu dengan pantatku dan saling memukul hingga menimbulkan bunyi. Kurasakan zakar Mas Bima juga memukul-mukul tepat pada belahan pantatku. Aku terengah-engah saat Mas Bima mengangkat kakiku tinggi-tinggi dan terus menghajar anusku dengan penisnya.
“Ahh.. ah.. ah…” erang Mas Bima. Keringat mulai mengucur dari leher dan dadanya hingga membuatnya terlihat makin seksi dan mengilap. “Pantat kamu emang enak banget Fin…” racaunya.
Mas Bima kemudian melepas kakiku dan mulai mengocok penisku. Aku melenguh nikmat saat Mas Bima secara simultan dan gerakan yang enak mengocok penisku seiring dengan penetrasi yang dia lakukan.
Aku merintih saat Mas Bima meletakkan dua telapak tangannya pada dadaku dan meremasnya berkali-kali. Jarinya sesekali mencubit  putingku dan menekannya dengan ibu jari sementara penisnya maasih terus menghajar anusku. Mas Bima membungkuk. jari telunjuknya dia masukkan pada mulutku. Aku kemudian mengulumnya seolah itu adalah penis Mas Bima. “mm.. mmm….”
Lalu Mas Bima membungkuk. Dengan tangannya dia membuka mulutku paksa dan wajahnya tepat berada di atasku. Setelah berhasil membuka mulutku, Mas Bima mengerucutkan bibirnya dan meneteskan air liur tepat masuk ke mulutku. Kurasakan ludah Mas Bima menetes pada lidahku dan mengalir hingga ke kerongkonganku. Dengan gemas Mas Bima menjilat bibirku.
Entah mengapa perbuatan kinky Mas Bima yang memaksaku mencicipi liurnya membuatku semakin terangsang. Mas Bima pun demikian. Dia menggenggam bahuku dan tanpa ampun gerakan mengentotnya semakin cepat dan ganas. Aku berteriak-teriak kesakitan sekaligus menikmati rojokan penisnya.
“Fin.. pantat kamu enak banget… argh..” erang Mas Bima berkali-kali.
“Mas… aku mau keluar…” rintihku ketika tak tahan lagi untuk mencapai klimaks. Tak lama penisku memancarkan cairan putih kental yang membasahi perut dan dadaku.
Mas Bima rupanya belum selesai. Dia membalik badanku hingga aku memunggunginya. Tanpa menunggu lama, dia kembali menyodok anusku dan menghajarnya kembali dengan cepat. Tangan Mas Bima memegangi punggungku sementara tangan satunya menarik rambutku ke belakang. Kasar sekaligus seksi.
“Akh…” aku memekik saat Mas Bima menjambak rambutku dan menarik kepalaku ke belakang.
“Aaaaaaaaarrrrrggh….” erang Mas Bima saat dengan bernafsu dia menghujamkan penisnya berkali-kali hingga aku lemas menggapai-gapai sprei dan pinggiran ranjang untuk berpegangan.
Mas Bima mencondongkan tubuhnya dan menciumi punggungku yang sudah basah oleh keringat. Wajahhnya dia dekatkan pada kepalaku. “Kamu hebat banget Fin.. kalau kamu cewek pasti Mas udah bisa bikin kamu hamil…” bisiknya.
“Terus Mas… terus… lebih kenceng…” ujarku lirih memberinya semangat.
“Mas keluarin di dalam?” tawarnya sambil terus menggoyangkan pinggangnya. Tangannya merangkul dadaku dan meremas-remasnya.
“Aku enggak mau hamil, Mas… keluarin di mulut aja..” ujarku nakal.
“Yakin?” Mas Bima bertanya sambil mencium pipiku dan menjilat telingaku.
Aku mengangguk.
“Ouw…!! aku udah mau keluar Fin….” desah Mas Bima.
Aku pun segera beringsut membuat penis Mas Bima keluar dari pantatku dan badanku membalik lalu melorot ke bawah ranjang hingga wajahku kini berada di hadapan penis Mas Bima yang orangnya sedang berdiri.
Tanpa berlama-lama, kulahap penis Mas Bima yang mengilap oleh pelumas itu. Dengan kasar Mas Bima menggunakan jari-jarinya meremas dan menarik rambutku dan menahan kepalaku supaya tetap melahap penisnya. Mas Bima gemetar. Dia mendorong pinggangnya dengan hentakan keras. Sekali, dua kali, dan hentakan ketiga kurasakan degan bibirku penisnya berdenyut-denyut.
“Hmmmmff! Hmmfff!! Hmmmff!” aku memekik tak jelas sambil meronta sedikit ketika tembakan demi tembakan cairan sperma Mas Bima memukul pangkal tenggorokanku, hangat dan mengalir ke dalam perutku.
“Aaaaahh! AAAAHHH!!” erang Mas Bima yang sedang mencapai klimaks. Tubuhnya terlihat gemetar selama beberapa saat. Ketika dirinya telah selesai menunaikan tugasnya mengeluarkan isi penisnya hingga tetes terakhir. Perlahan dia mengeluarkan penisnya dari mulutku dan menjatuhkan tubuh kekarnya di atas ranjang sambil terengah-engah.
Aku beringsut dan berbaring di sebelahnya sambil memeluk tubuhnya yang berkeringat. Aku menciumi lembut dadanya beberapa kali “Mas Bima emang hebat,” aku memujinya.
Mas Bima tersenyum. Dia menarik tubuhku dan memelukku sambil memberikan kecupan sayang dan terima kasih pada pipiku.
“Kamu juga hebat, bikin Mas bener-bener puas,” pujinya.
Aku tersenyum malu. Kumainkan jari-jariku pada dada bidangnya sambil sesekali memainkan putingnya.
“Fin…?” tanyanya.
“Ya, Mas?”
“Mas ada kabar kurang bagus,” kata Mas Bima sambil mengusap rambutku.
“Kabar apa mas?” tanyaku penasaran.
Mas Bima tak menjawab. Dia menatap mataku sedih.
(BERSAMBUNG)

Read More →

 

Copyright © 2012 HEAVEN OF MEN | Powered by Blogger