Bang Rosyid Ditinggal Istri #3

Cerita sebelumnya: Rosyid yang tinggal sendiri setelah istrinya pergi menjadi TKI diam-diam disukai oleh Karim tetangganya yang baru duduk di kelas tiga SMA. Karim berkesempatan mengoral penis Rosyid dua kali. Rasa suka Karim bertambah. Apakah Rosyid membalas perasaan Karim?
SEKARANG giliran aku yang menghindari Bang Rosyid sejak kejadian lalu. Aku menghentikan kebiasaanku nongkrong di teras rumah “menunggu” kedatangan Bang Rosyid setiap sore dan lebih suka bersembunyi di dalam kamar.
“Mangganya udah mateng, Syid? makasih ya? nanti Nenek kupasin buat Karim,” kata Nenek di luar yang suaranya sayup-sayup kudengar dari dalam kamar.
“Iya, Nek. Tumben si Karim enggak belajar lagi di luar? udah pintar?” kata Bang Rosyid.
“Enggak tahu tuh, belakangan si Karim kalau pulang sekolah langsung masuk kamar, jarang keluar…” kata Nenek.
“Oh, gitu ya, Nek? kalau gitu, Rosyid masuk dulu,” kata Bang Rosyid
Aku menenggelamkan wajahku ke bantal.
*
Malam harinya, aku mendapat SMS dari Bang Rosyid.
“Kamu marah sama abang? marah kenapa?”
Lama aku menatap layar ponsel sambil menimbang-nimbang apakah harus membalas pesan dari Bang Rosyid atau tidak.
Sesaat kemudian aku menghela nafas dan mulai mengetikkan beberapa kalimat.
“Kayaknya kita enggak usah deket lagi, Bang. Karim enggak enak sama istri abang.”
Kulempar ponselku ke atas ranjang seakan tak ingin tahu balasan apa yang akan dikirimkan oleh Bang Rosyid. Tapi karena penasaran, aku masih meliriknya.
Jantungku mencelos ketika layar ponselku menyala. Balasan dari Bang Rosyid. Aku memungut kembali ponselku.
“Tapi abang kangen.” balasnya.
Ada sebuah perasaan menyelusup ke dadaku yang membuatnya terasa hangat saat kubaca sms balasan dari Bang Rosyid. Segera kuketik balasannya pada ponselku.
“Terus, Karim harus gimana?”
Tak lama Bang Rosyid membalas.
“Nenek kamu udah tidur? ke sini Rim, pintu dapur abang enggak dikunci.”
Mendadak semua usahaku menghindari Bang Rosyid selama ini menjadi sia-sia. Aku segera merapikan pakaianku dan mengendap-endap keluar rumah lewat pintu dapur agar nenekku tidak terbangun.
Perlahan kubuka pintu dapur Bang Rosyid dan berjalan masuk tanpa menimbulkan suara.
“Bang?” sahutku ketika sampai di depan kamarnya.
“Masuk, Rim…” kata Bang Rosyid.
Aku menuruti suruhan Bang Rosyid. Kulihat dirinya masih duduk di depan laptopnya yang masih menyala. Wajahnya terlihat aneh.
“Abang lagi apa?” tanyaku.
Bang Rosyid tak menjawab. Dia menatapku sesaat, kemudian dia berdiri dan menghampiriku.
Aku terkejut ketika Bang Rosyid memelukku dengan erat. Pelukan yang bukan terasa seperti seorang abang kepada adiknya. Pelukan bergairah.
“Bang? Abang kenapa?” tanyaku.
Bang Rosyid tak menjawab. Dia kemudian merangkulku mesra dan mulai menciumi leherku walau cumbuannya serba tanggung dan penuh keragu-raguan. Kurasakan penis Bang Rosyid di balik celananya yang sepertinya sudah mengeras sejak lama menekan perutku.
Aku mencoba mengimbangi pelukan Bang Rosyid. Tapi aku tetap mencari tahu perubahan sikapnya. Kulirik layar laptop Bang Rosyid. Rupanya ada jendela chat terbuka di situ dan ada nama istri Bang Rosyid. Sempat kulihat isi chat terakhir istri Bang Rosyid. “Sekian pertunjukkan stripteasnya ya bang.. hahaha.. mudah-mudahan abang enggak tegang.. love you abangku ganteng..”
Jadi.. mungkinkah Bang Rosyid sedang horny gara-gara melihat istrinya melakukan hal erotis melalui web? tanyaku dalam hati.
“Bang.. abang beneran kangen Karim?” tanyaku.
Bang Rosyid hanya mengangguk cepat beberapa kali tanpa menjawab. Dia kemudian membimbingku ke ranjang dan merebahkan aku. Mata kami berdua saling bertatapan. Saat aku beranikan diri mengangkat kepalaku untuk menciumnya, Bang Rosyid tiba-tiba menghindar. Aku menjadi keheranan.
“Karim.. kamu kangen Abang kan?” tanyanya parau.
“I.. iya bang..”
“Kalau gitu, bantuin abang ya?” tanyanya sambil mengulurkan tangannya ke sebelah tubuhku dan mengambil sesuatu.
“A.. apa itu bang?” tanyaku tak mengerti.
Kulihat Bang Rosyid menggenggam sebuah benda dari kain dan menyodorkannya padaku.
“Abang.. udah lama pengen ngewe.. tapi abang bukan homo… kalau kamu kangen sama abang.. pakai daster ini Rim.. ya? mau ya?” pintanya lirih.
Aku menatap kain bermotif bunga yang dipegang Bang Rosyid. Tangannya gemetar. Kulihat mata Bang Rosyid. Tatapannya bercampur antara takut, salah tingkah, dan sedang bernafsu.
“Ini.. baju istri abang?” tanyaku memastikan setelah menerima baju itu dari Bang Rosyid.
Kulihat Bang Rosyid tak menjawab dan hanya meneguk ludah sekali tanda kegugupan.
Tak perlu menunggu lama untukku merasa marah. Kudorong Bang Rosyid dari atas tubuhku dan kulempar baju itu ke atas ranjang.
“Maaf bang! Karim ogah pake baju cewek. Kalau Abang emang enggak tahan pengen ngewek, cari perek di kota sana Bang!!” sahutku ketus sambil keluar dari kamar Bang Rosyid.
Aku segera kembali ke rumah dengan perasaan marah. Aku benar-benar membenci Bang Rosyid sekarang.
***
Dua minggu lamanya aku tak bertemu Bang Rosyid walau kami bertetangga. Mungkin dia merasa malu setelah memintaku memakai baju istrinya saat berniat melampiaskan nafsunya padaku. Aku paham, Bang Rosyid yang sudah berumah tangga pasti tak puas hanya dengan servis oral. Aku bergidik sendiri membayangkan bila aku membiarkan Bang Rosyid mengambil keperawanan anusku malam itu, maka seumur hidup akan terus kuingat “malam pertamaku” kuserahkan dengan memakai daster wanita.
Aku juga memang menghindari Bang Rosyid, itulah sebabnya klop kami berdua tak pernah bertemu muka sekian lama. Bang Rosyid masih pulang ke rumahnya. Kadang larut malam. Entah dari mana. Seringkali juga aku cemburu memikirkan yang tidak-tidak bahwa Bang Rosyid mengikuti saranku untuk mencari pelacur jika sedang horny. Ah, Bang Rosyid.. aku tidak rela.
Perubahan sikap Bang Rosyid juga dirasakan oleh Nenek. Suatu hari Nenek berbicara padaku mengenai hal itu.
“Si Rosyid itu sekarang pulang malam terus… kadang malah enggak pulang dan milih tidur di saung sawah. Katanya ngejagain kebunnya yang sudah mau panen buahnya… Nenek khawatir dia sakit,” kata Nenek.
“Terus, Karim harus gimana, nek? itu kan maunya Bang Rosyid,” sahutku tak peduli.
“Coba tolong kamu anterin makanan buat Rosyid, Rim.. itu nenek ada bikinin dia sup di rantang sama nasi..”
“Malam-malam gini?” tanyaku.
“Tolonglah Rim.. Rosyid itu anak baik, nenek enggak tega,” pinta Nenek.
Aku menghela nafas sambil menutup bukuku. Kuambil lampu darurat jinjing dan menyalakannya. Sambil cemberut aku mengambil rantang makanan yang disiapkan Nenek dan pamitan.
“Karim pergi dulu Nek,” kataku.
“Hati-hati ya Rim..” kata Nenek.
***
Perjalanan menuju kebun Bang Rosyid ditempuh agak lama. Aku harus melewati sungai dan hutan bambu yang gelap. Aku bukan anak penakut, hanya saja nyaliku sepertinya akan berkurang jika harus kembali lagi lebih larut malam.
Saung Bang Rosyid terletak di pinggir sawah berbatasan dengan kebunnya dan jauh dari rumah penduduk. Aku melihat saung dari bilik dan bambu itu dalam keadaan kosong namun lampu listrik temaram masih menyala dan terdengar sayup suara musik dari pengeras suara kecil.
“Bang?” tanyaku.
Aku mendekat. Hanya ada pakaian dan celana Bang Rosyid dan sarungnya di situ.
“Karim?” tanya sebuah suara.
Aku terperanjat dan menoleh. Rupanya Bang Rosyid baru saja kembali dan hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya.
“Eh, Bang… dari mana?” tanyaku berusaha menghilangkan kegugupan.
“Abis mandi di pancuran, Rim. Malam ini gerah betul. Kamu ngapain malam-malam ke sini?” tanya Bang Rosyid.
“Um.. ini bang.. Nenek ada titip makanan buat abang..” kataku sambil mendorong rantang yang kubawa ke dekatnya.
Bang Rosyid terdiam dan menatapku.
“Kenapa bang?” tanyaku heran.
“Enggak apa-apa. Kirain kamu ke sini emang niat sendiri ketemu abang..” kata Bang Rosyid sambil memakai kembali kausnya tanpa melepas handuknya.
Aku mengangkat bahu.
“Hmm.. sop nenek kamu kayaknya enak, nih. Temenin abang makan sama-sama ya?” ujar Bang Rosyid sambil membongkar rantangan dari nenek.
“Enggak usah bang, abang aja yang makan. Karim udah..” tolakku.
Bang Rosyid tak memaksa. Dengan lahap dia memakan nasi dan sup buatan nenek. Aku melihatnya sambil tersenyum.
Setelah selesai makan Bang Rosyid malah kembali murung.
“Loh, kenapa bang? enggak enak ya?” tanyaku.
Sesaat Bang Rosyid terdiam.
“Enggak Rim.. Abang ngerasa bersalah sama kamu gara-gara kemarin itu… sekarang abang juga lagi enggak deket sama istri abang. Dia kebanyakan menghindar dan abang juga kayak menjauh dan jarang online lagi. Makanya abang lebih suka di sini.. sendirian.. Maafin abang, ya?” pinta Bang Rosyid tulus.
“Asal abang tahu.. Karim belum pernah..” aku terbatuk lalu melanjutkan “dan terus terang Karim suka sama abang.. tapi Karim pengen Abang tetep anggap Karim ya Karim.. bukan orang lain..”
Bang Rosyid menatapku sayu.
“Dan kalau Abang kangen beneran sama Karim.. Karim mau?” tanya Bang Rosyid dengan suaranya yang terdengar sangat romantis.
Aku meneguk ludah. Jantungku berdesir kencang saat Bang Rosyid mendekatkan wajahnya pada wajahku. Kurasakan wajahku memanas tak berani menatap wajahnya.
Kurasakan telapak tangan Bang Rosyid mengusap pipiku lembut. Hembusan nafasnya yang hangat terasa di telingaku saat dia berbisik, “Abang kangen Karim.. ajarin abang gimana caranya…”
Tubuhku terasa mau meleleh. Kubiarkan Bang Rosyid mencium pipiku. Aku pasrah saat Bang Rosyid meloloskan kausku hingga aku bertelanjang dada. Dia lalu mendekatkan bibirnya pada leherku. Bang Rosyid yang terlihat tak bercukur selama beberapa hari membuatku geli bercampur nikmat saat rambut tajam di atas bibir dan dagunya menggesek kulitku ketika dia menciumi leherku.
“Hh… bang..” aku mendesah.
Bang Rosyid semakin bersemangat ketika melihat reaksiku atas perbuatannya. Cumbuannya semakin bergeser dan tubuhnya mulai menindihku.
Aku harus menggigit bibir menahan mulutku agar tak berteriak keenakan ketika Bang Rosyid mengisap putingku.
“Ngggg… nggg…” erangku tertahan sambil mencengkeram bahu Bang Rosyid.
Aku hendak berinisiatif untuk gantian mengisap puting Bang Rosyid. Namun rupanya Bang Rosyid ingin mengendalikan permainan malam ini dan membiarkanku tak berkutik.
Ditahannya kedua lenganku dan dia mulai menjilati bagian bawah ketiakku. Aku memekik pelan. Enak sekali. Lidah Bang Rosyid menari-nari di atas kulitku. Menekan, menjilat, mengusap bagian sensitifku di ketiak dan putingku berulang kali hingga aku menggeliat liar.
Lama sekali Bang Rosyid melakukan itu sampai aku nyaris kehabisan nafas. Dia lalu menatapku lekat-lekat.
“Jadi.. selanjutnya abang masukin kamu di situ..?” tanyanya.
Aku mengangguk. Bang Rosyid dengan nakal menggesek-gesekkan penis dibalik handuknya pada selangkanganku. Aku lalu menarik baju Bang Rosyid hingga dia kembali bertelanjang dada.
“Tapi enggak ada pelumasnya bang.. enggak kayak itu..” ujarku malu-malu mengatakan vagina.
“Jadi harus dibasahin dulu, gitu?” tanya Bang Rosyid polos.
“Iya bang.. sini Karim basahin dulu punya abang di mulut Karim..” tawarku.
Tapi Bang Rosyid menggeleng. Dia malah menarik celana pendekku hingga aku telanjang bulat. Dibukanya pahaku lebar-lebar namun aku pasrah.
“Waah.. kamu mulus juga ya Rim? lobangnya juga sempit.. kalo kontol abang bisa masuk sini kayaknya bakalan enak nih..” goda Bang Rosyid yang kepalanya kulihat di balik selangkanganku sedang memerhatikan lubang anusku.
“Tapi pelan-pela.. aw!” aku memekik ketika Bang Rosyid tiba-tiba meludah tepat pada lubang anusku hingga terasa lembab dan basah.
“Abang…” desahku kemudian saat kurasakan lidah Bang Rosyid menjilat lubang anusku dan menekan-nekannya hingga aku merasa sangat keenakan. Kulihat penisku menegang dengan maksimal.
Beberapa kali Bang Rosyid mengeluarkan liurnya dan membuat pantatku terasa sangat basah dan lembab. Akhirnya Bang Rosyid bangkit dan kembali berada di atasku.
“Kayaknya udah cukup pelumasnya.. kalau kamu masih sakit, resiko ya..” seringai Bang Rosyid nakal.
“Ah.. Abang.. ahkk..” Kakiku menegang keras dan tubuhku serasa tertarik-tarik ototnya ketika Bang Rosyid mulai berusaha memasukkan penisnya yang juga telah tegang itu ke dalam anusku.
Aku menatapnya sayu sambil mendesah lirih berharap pada Bang Rosyid untuk melakukannya pelan-pelan karena ini adalah kali pertamaku. Bang Rosyid menatapku mencoba mencari tahu reaksiku ketika batang penisnya sedikit demi sedikit melesak masuk ke dalam anusku.
“Sshh.. pelan-pelan bang..” desisku sambil mencengkeram lengan kekar Bang Rosyid ketika gerakannya terlalu cepat mendorong hingga aku merasa perih. Kulihat mata Bang Rosyid membelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka seakan tak percaya dengan sensasi yang baru saja dia rasakan.
“Pelan pelan bang… pelan-pelan.. biarin agak lama dulu di dalam..” pintaku. Bang Rosyid mencium bibirku dengan penuh nafsu. Dia tahu, hal itu membuatku merasa dibutuhkan dan disayang hingga tubuhku lebih rileks.
“Enak bang?” godaku manja sambil menatapnya sayu.
Bang Rosyid meneguk ludah tak menjawab.
“Kamu gak sakit?” tanyanya kemudian.
“Sedikit perih bang.. tapi gak papa.. asal abang enak, Karim jadi seneng…” kataku jujur.
“Trus bikin enaknya kamu gimana? abang nggak mau enak sendiri nih.. jepitan pantat kamu enak banget soalnya..” tanya Bang Rosyid.
“Mungkin kalau abang nusuknya lebih dalem bakal kena bagian enak Karim..” usulku.
“Kayak gini?” tanya Bang Rosyid sambil perlahan menarik kembali penisnya lalu secara tiba-tiba menghujamkannya kembali ke dalam pantatku.
“Ouw!” pekikku keenakan. Bang Rosyid berhasil menghajar titik kenikmatan di dalam tubuhku.
“I.. iya bang.. kayak gitu.. enak..” desisku.
“Lagi?” tawar Bang Rosyid nakal.
Aku mengangguk.
Dan.. “OUH!!” pekikku lebih keras saat Bang Rosyid mengulang gerakannya.
Lagi dan lagi Bang Rosyid menghujamkan penisnya dengan cara dihentak berkali-kali. Aku sampai mengeluarkan airmata, meringis keenakan dan akhirnya…
“Ouh.. Bang.. Karim keluar..” erangku sambil menyemburkan sperma yang tumpah di dada dan perutku. Bang Rosyid takjub melihatku bisa keluar tanpa menyentuh penisku sama sekali melainkan terangsang karena sodokan penisnya.
“Sekarang giliran abang…” gumam Bang Rosyid.
“Iya bang.. Karim siap.. tusuk Karim sampe abang keluar…” pintaku.
Aku kemudian pasrah terlonjak-lonjak ketika Bang Rosyid mengangkat kakiku dan menyetubuhi anusku dengan gerakannya yang cepat. Kali ini dengan tujuan memuaskan dirinya setelah berhasil membuatku mencapai puncak orgasme.
“Ouuh… terus bang.. uuuh.. hh.. kontol abang enak…” gumamku menyemangati Bang Rosyid.
“Arrrgh….” Bang Rosyid kemudian mengerang sambil menusukkan penisnya dalam-dalam. Aku menggelinjang dan mendesah nikmat saat anusku terasa hangat dan basah oleh semprotan lahar sperma Bang Rosyid yang tumpah di dalamnya. Pria beristri seperti Bang Rosyid yang sudah terbiasa menyetubuhi istrinya pasti akan lebih puas dan memilih untuk menyelesaikan permainan dalam lubang.
Bang Rosyid terengah. Badannya dibasahi keringat.
“Biarin dulu bang di dalam.. peluk Karim dulu.. abang hebat banget..” pujiku sambil menarik Bang Rosyid ke pelukanku sementara penisnya masih bersarang di lubang anusku.
Aku mengecup pipi Bang Rosyid yang masih terengah-engah. Kuusap rambutnya yang sedikit basah oleh keringat. Kupeluk Bang Rosyid lebih erat untuk menenangkan birahinya sambil memejamkan mata.
Aku sayang Bang Rosyid… gumamku dalam hati.
-bersambung-

Read More →

Aku dan Dildo

"Apa-apaan kamu!" ujar ayahku, segera masuk dan menutup pintu.

Aku tersentak kaget. Jantungku berdebar kencang. Mataku membelalak, lalu berkedip-kedip. Aku membungkukkan badan, menarik kedua kakiku dan memeluknya dengan tangan kananku. Tangan kiriku menarik bantal terdekat dan menutupi badanku, semampu sebuah bantal menutupi tubuh. Tidak cukup cepat, kupikir. Mukaku terasa panas--aku yakin pasti kemerahan.

Ayahku melihat ke kiri, kanan, lalu ke ranjangku yang berantakan. Seakan puas menginspeksi TKP, ayahku lalu kembali melihat ke arahku, lalu menggeleng-gelengkan kepala. Dia berjalan mendekatiku. Aku pun bergegas menjauhkan diri dalam ketakutan, tapi yang bisa kulakukan hanya duduk lebih tegak dan merapatkan kaki dengan dada, bersandar pada punggung ranjang.

Sejak kecil ayahku keras terhadap anak-anaknya. Aku paling takut kalau ayahku marah--mukanya mengerikan, tangannya siap melayang. Dan pukulannya keras dan sakit luar biasa. Mendekatiku seperti itu, pikiranku kacau dan jujur saja aku ketakutan.

Dan ayahku pun duduk di samping ranjang, jaraknya hanya sekitar dua lengan dariku. Tangan kirinya menjangkauku pelan, diletakkannya di atas bantal yang kugunakan untuk menutupi tubuhku. Lalu dia menariknya dengan paksa. Dan matanya tertuju tepat pada bagian yang tadi kututupi, seakan memeriksa ulang apa benar yang tadi dilihatnya. Tiba-tiba tangan kanannya melayang.

Sedetik pertama aku tidak sadar itu terjadi. Baru setelahnya rasa sakit di pipiku menyadarkanku. Ayah baru saja menamparku. Aku menutup mata melihat tangan kanannya diangkat lagi, kutolehkan wajahku ke samping. Tangannya hinggap di kepalaku. Dan ayahku mengelus kepalaku. "Seumur-umur papa hidup benar. Baru pertama kali papa lihat--anak sendiri papa gedein rupanya kayak gini."

Aku mengintip dari balik lengan ayahku. Ayahku terlihat seperti kecewa. "Maaf pa," kataku. Aku masih tidak bergerak, seluruh tubuhku seakan terkunci di sana.

"Udah sejak kapan kamu main ginian?" tanya ayahku, tangannya masih mengelus kepalaku seakan mencoba menenangkanku. Pertanyaan seperti itu membuatku diam sejenak dan benar-benar mengingat sejak kapan. Tapi lanjut ayahku, "Gimana pun kamu tetap anak papa. Cuma papa ngga ngerti kenapa kamu gini--apa enaknya pantat disodokin batang."

Kata-kata itu membuatku sekaligus malu dan terangsang. Untungnya ditutupi kedua kakiku ayahku tidak dapat melihat penisku yang mulai mengeras lagi. Tanganku masih menutupi lubang pantatku, menekan dalam-dalam dildo, seakan-akan hal itu dapat membuat ayahku lupa apa yang sudah dilihatnya.

"Coba kamu bilang, Wendy. Kita sama-sama udah dewasa. Apa enaknya?" tanyanya lagi, tangannya menarik tanganku dari pantatku. Dildo sepanjang 20 cm itu terdorong keluar dengan sendirinya.

Sesaat aku ragu apa aku perlu menjawabnya. Tapi aku tahu kedua kalinya ayahku bertanya adalah saatnya bagiku untuk menjawab. "Enak aja pa. Di..didorong nekan prostat gitu."

Mendengarnya, ayahku melihat ke arah wajahku. Satu ujung bibirnya naik, tersenyum heran mendengarku. Lalu ayahku kembali melihat ke arah dildo yang masih tertancap di lubang pantatku. Saat itu juga aku tersadar dengan bulu-bulu di sekitar lubangku, dan malu akan hal itu--malu dengan badan sendiri, aku mencoba menutupinya kembali dengan tanganku. Tapi tangan ayahku menepis tanganku dan menggengam dildo itu. Tanpa aba-aba ditariknya, cukup cepat dalam sekali tarikan, membuatku mengerang kesakitan.

Melihat bentuk dildo itu--seakan ayahku baru tersadar bahwa itu bukan sembarang batang, tapi sebuah dildo--ayahku menggeleng-gelengkan kepalanya sekali lagi. "Papa heran kamu beli di mana barang kayak gini. Untung tadi yang masuk papa, bukan mama atau adik-adik kamu. Setidaknya lain kali inget kunci dulu."

Aku agak terheran mendengarnya--tapi aku menjawab, "Iya pa". Seakan dia tidak masalah jika aku melakukan ini lagi di kemudian hari. Lalu ayahku menegakkan badannya, meletakkan dildo yang masih basah itu di ranjang, dan bergerak mendekatiku. Wajahnya tepat di depan mataku, dahinya menempel dahiku. "Wendy," katanya pelan. "Kasih papa lihat kamu mainin ini. Papa mau lihat."

Melihatnya sedekat itu, mendengar kata-katanya dari sedekat itu--semua kata-kata itu terasa menghipnotisku. Dan aku, tanpa berpikir, mengangguk. Ayahku berdiri, lalu berjalan menuju pintu kamarku dan menguncinya. Kepalanya menoleh ke arah kain gorden yang menutupi pintu kaca balkon, sepertinya mengecek kalau-kalau ada cela. Lalu dia menarik kursi dari meja belajarku dan duduk. Kepalanya mengangguk, memberiku tanda untuk mulai.

Aku membalasnya dengan mengangguk kecil, wajahku tak berekspresi. Masih bingung, masih bertanya-tanya dalam hati kenapa ayahku membuat permintaan semacam itu, aku membungkukkan badan dan memanjangkan lenganku untuk mengambil dildo berwarna hitam itu. Dildo sederhana, tanpa ada guratan maupun fungsi tambahan, cukup lentur. Aku tahu ayahku straight, dan cukup playboy. Aku sering memergokinya memperhatikan cewe-cewe seksi kalau kita sedang jalan bareng di luar. Teman-teman prianya bukan tipe metrosexual. Dan banyak faktor-faktor lain yang membuatku berkesimpulan bahwa ayahku seorang pria straight tulen. Ayahku cukup ganteng--kita tidak terlalu mirip. Di usianya yang ke-48, badannya terlihat masih fit, dan kulitnya kencang. Seluruh tubuhnya penuh dengan tato, yang notabene dulu ditambahkannya tiap kali dia mengalami stress. Dan aku melihat ke arah selangkangan ayahku, tidak terlihat ada tonjolan. Berbagai pertanyaan muncul di benakku, tapi aku tidak berani mengulur-ulur waktu.

Aku mengambil botol pelumas dari meja kecil di samping ranjangku. Kuoleskan pelumas pada dildo, kuusapkan dengan rata. Lalu aku berbaring dengan sedikit bersandar pada punggung ranjang. Aku membuka kedua pahaku, menekukkan keduanya di kiri dan kanan.

"Hadapin ke sini," kata ayahku.

Aku lalu bergerak sedikit memutarkan badan, mengarahkan bagian bawah tubuhku ke arah pandangan ayahku. Malu tapi sekaligus makin terangsang. Mungkin aku seorang exhibitionist. Aku kembali membenarkan posisi paha-pahaku. Sedikit menarik kepalaku ke atas, tangan kananku menjulur membawa dildo, tangan kiriku sedikit menarik paha kiriku supaya aku dapat lebih mudah mengarahkannya. Aku menempelkan ujung dildo itu di pangkal kontolku, dan kuarahkannya ke bawah, berhenti sewaktu aku merasakan sesuatu tepat di luar lubangku.

Perlahan kudorong dildo itu masuk. Sedikit menahan rasa sakit. Tangan kiriku langsung menggapai kontolku, sedikit mengocok-ngocok mengimbangi rasa sakit. Perlahan dildo itu menyusuri dinding lubangku--satu senti, dua senti, tiga senti... Sampai akhirnya aku rasakan jempolku menempel di atas lubangku. Aku kembali melihat ke arah ayahku--dia masih duduk terdiam melihatku, sama sekali tidak ada tanda-tanda dia akan melakukan sesuatu.

Tidak lebih lanjut menghiraukannya, aku perlahan menarik keluar dildo itu. Kocokanku sedikit makin cepat. Precum membasahi kontolku. Lalu aku mendorong dildo itu kembali masuk. Merasa cukup nyaman, aku mempercepat gerakanku, menarik, mendorong dildo masuk dan keluar dari lubangku. Aku tahu di rumah sedang kosong--hanya ada aku dan ayahku karena ibu, adik-adikku, dan pembantuku baru saja keluar untuk menghadiri kawinan orang lain. Aku mengerang karena nikmat, saat ujung dildo itu mendorong dinding prostatku lalu lebih dalam lagi menyodok lainnya--rasa aneh yang terjadi di dalam perut bawahku, rasa aneh membuatku makin terangsang. "Ahh! Ahh!" erangku sambil menutup mata.

Untuk beberapa saat aku terus memboboli lubangku sendiri dengan dildo itu, semakin lama semakin dalam dan cepat. Tiap tarikan semakin panjang, membuat badanku merinding. Aku juga mengocok makin cepat. Bosan, aku menarik keluar dildo itu. Aku bangun dan mengambil posisi membelakangi ayahku. Lalu aku berlutut dan membungkukkan badanku, bertumpu pada kedua lutut dan tangan kananku. Dengan tangan kiriku aku kembali memasukkan dildo itu, kali ini dengan cepat dan tanpa perlu pemanasan lagi aku menyodok-nyodokkannya. Sesekali kepalaku melenguh ke atas, ke bawah. Di depanku sebuah cermin yang cukup besar, dan di sana terlihat aku sendiri dan ayahku.

Aku suka dengan tubuhku sendiri. Aku suka melihat tubuhku. Meski aku tidak sering berolah-raga, dan perutku sedikit maju. Aku suka segala hal tentang diriku. Wajah, leher, bahu, ketiak dan bulu-bulunya, dada, puting, perut, bulu kemaluanku yang lebat, kontolku yang cukup panjang dan tebal, selangkangan, paha, dan kaki. Aku suka semua bagian tubuhku. Tiap kali aku melihat diriku sendiri dalam keadaan telanjang, aku terangsang. Aku ingin bisa menikmati semua bagian tubuhku, tapi yang bisa kulakukan tidak banyak.

Aku melepaskan tanganku dari dildo di dalam lubangku, menegakkan tubuhku, masih berlutut. Aku memandangi lekukan tubuhku sendiri. Tidak peduli lagi dengan keberadaan ayahku di belakang, aku memainkan putingku. Tangan kananku mencubit-cubit putingku, tangan kiriku mengusap dada dan perutku sendiri. Lalu aku mengangkat tangan kananku ke atas, kuhirup ketiakku. Aku tidak bau. Lalu kujulurkan lidahku ke kulit ketiakku, menjilatinya. Kontolku sudah sangat keras, dan kapan pun aku dapat ejakulasi.

Sesuatu yang tak kusangka terjadi adalah melihat ayahku menurunkan celananya. Dari balik celana dalam putihnya terlihat sebatang kontol yang sudah keras, di ujungnya terlihat cukup basah karena precum. Ayahku lalu menurunkan juga celana dalamnya, menyelipkan kontolnya keluar. Beda dengan aku yang berkulit terang, ayahku cenderung berkulit gelap seperti pamanku. Kontolnya sama persis dengan kontolku, bentuknya, panjangnya. Hanya ayahku juga menyelipkan keluar kedua buah zakarnya, dan keduanya berbeda dengan milikku yang ukurannya biasa. Kedua buah zakar ayahku berbulu dan sangat besar, seakan menyimpan persediaan sperma yang sangat banyak. Dan dia mulai mengocoknya.

Melihat kontolnya--melihatnya terangsang melihatku membuatku makin terangsang. Aku ingin menyentuh kontolnya, memainkannya, menghisapnya. Tapi aku tahu itu salah. Aku tahu ayah tidak akan membiarkanku melakukannya. Aku kembali ke posisi terlentang di ranjang. Kusisipkan bantal di bawah kepalaku supaya aku dapat terus melihat kontol ayahku. Aku pun mulai menyodok-nyodokkan dildo ke dalam lubangku lagi. Aku mulai kehilangan fokus karena semua ini, tapi aku tetap berusaha memperhatikan ayahku.

"Pa aku mau keluar," kataku. Ayahku lalu bangun dari kursi dan berdiri mendekatiku, tepat di belakang kedua kakiku. Dia terus mengocok. Aku terus mengocok, memainkan dildo, dan mengerang-erang. Tak lama kemudian aku mengerang keras, menyemburkan sperma berkali-kali ke mana-mana--wajah, leher, dada, dan perutku. Lalu ayahku pun ikut menyemburkan spermanya, jatuh di kontol, selangkangan, dan perutku--teramat banyak, teramat kental. Merasakan hangat aliran pejunya di kulitku membuatku tersentak dan berejakulasi tambahan. Denyutan di kontolku berlanjut berkali-kali meski terasa sudah benar-benar habis spermaku.

Kita berdua hanya di sana tanpa bergerak, masih menyusun nafas. Aku menarik keluar dildo itu dari dalam lubangku, dan kujatuhkannya di sembarang tempat. Badanku masih penuh berlumuran sperma. Ayahku mengambil handuk dari dekatnya, mengelap kontolnya, lalu melemparkannya ke perutku.

"Jangan bilang siapa-siapa," kata ayahku sambil membenarkan celananya. Dia menarik karet celananya dan melepaskannya, lalu menarik kaus singletnya keluar dari celana. Lalu dia berjalan ke arah pintu kamarku. Menoleh sebentar ke arahku yang masih tergeletak lemas di ranjang, lalu dia membuka pintu dan keluar.

Aku lalu mengelap tubuhku dengan handuk dan bergegas ke kamar mandi. Aku mandi dengan seksama, masih belum percaya ayahku sendiri menikmati menonton aku main dengan diriku sendiri. Seusainya aku keluar dari kamar untuk minum dan makan. Ayahku duduk di sofa menonton TV. Kita berlagak seakan hal tadi tidak terjadi.

Dan tidak pernah lagi terjadi. Sesekali di kemudian hari ayahku terkadang mengingatkanku untuk tidak bermain terlalu kasar, takutnya luka di lubangku dan semacamnya. Tapi kita tidak pernah lagi melakukan hal itu. Semua ini terjadi sewaktu aku sedang di rumah, beberapa bulan sejak aku dan Budi menjaga jarak.

Read More →

Aku, Pamanku dan Berbagai Pria

Sepertinya boleh cerita sedikit tentang aku sendiri. Tentunya namaku Wendy, dan aku lebih suka dipanggil ‘Wendy’ daripada ‘Wen’, ‘Ndy’, atau ‘Dy’. Usiaku baru beranjak 23 tahun. Fisikku dibilang seksi juga ngga, tapi dibilang jelek juga ngga—cukup kalau pakai baju apapun, atau setidaknya hampir apapun, katanya terlihat bagus. Tinggiku 170 sentimeter, beratku 66 kilogram. Aku lumayan sering berenang, jadi meski perutku sedikit menonjol, sebenarnya kulitku lumayan kencang dan tubuhku lumayan proporsional—selama aku tidak mengenakan kaus ketat. Fitur fisikku yang lumayan menonjol, dan aku sebenarnya kurang suka, adalah cukup lebatnya bulu di beberapa bagian tubuh: lengan, paha atas dan bawah, perut menjalar ke kemaluan, ketiak, dan, ahem, di sekitar lubang pantat. Fitur ini cukup menonjol karena umumnya orang-orang yang seketurunan denganku, keturunan berinisial T, tidak berbulu, atau setidaknya hanya sedikit saja berbulunya. Aku suka risih dengan hal ini dan beberapa kali aku mencoba waxing untuk menghilangkannya. Tapi anehnya banyak juga yang ngaku suka dengan fisikku apa adanya (setidaknya bukti obyektifnya kalau di tempat pemandian kolam renang aku suka mendapat perhatian, di mana bulu-buluku justru terlihat lebih jelas karena basah setelah berenang). Wajahku oval, tapi tidak lancip seperti cowo-cowo umumnya. Dan, ya, aku sering dikira orang keturunan campuran—makanya sering disapa dengan bahasa Inggris saat di dalam taksi atau di resepsionis hotel. Secara keseluruhan penampilanku cukup trendi. Aku suka mengikuti tren busana dan mencocokkannya dengan seleraku sendiri. Dan poin dari penjelasan panjang tentang aku ini sebenarnya apa aku juga bingung—bercanda. Poinnya adalah maka dari itu aku sadar sering ada pria-pria, umumnya di tempat-tempat seperti kafe ini yang melirikku. Dan terkadang aku merespon lirikan mereka dengan tersenyum.

Dan sepertinya Budi menyadari juga hal ini: seorang pria melirikku dan aku membalas dengan tersenyum. Dia sempat melihatku tersenyum dan melihat ke arah belakangnya. Setelah itu dia hanya diam dan terlihat makin jengkel. Kalau dipikir logis, toh Budi sudah menolakku sebelumnya, jadi tentunya kalau akhirnya aku kenalan dengan pria lain pun mestinya boleh dong. Kalau dipikir logis. Tapi suasana kita berdua sepertinya menunjukkan adanya main perasaan—CLBK istilahnya.

Sejak tadi saat Budi menunjukkan dirinya setelah kita bertukar pesan—dia tadinya duduk di dalam ruang bebas asap rokok dan aku duduk di ruangan merokok—sejak tadi dia hanya diam setelah sebentar saling menyapa dan dia mempersilahkan dirinya sendiri untuk duduk. Budi orangnya cukup ramah, supel, dan biasanya gentleman banget. Tapi kali ini dia terlihat murung bercampur jengkel dan seakan sedang ada banyak pikiran. Mungkin agak keterlaluan juga kalau aku menggoda pria lain di saat kita baru bertemu setelah sekian lama tidak—tadi itu benar-benar refleks karena pria yang senyum tipeku. Orangnya berbadan besar, meski tidak tinggi, mengenakan kemeja abu-abu dan jas hitam, dan wajahnya cukup ok. “Udah, udah, berenti mikirin cowo tadi. Balik ke Budi,” pikirku.

Belum lama setelah aku memutuskan untuk memberi lebih perhatian ke Budi, lampu kafe ini dimatikan—tanda akan tutup dan mengusir tamu-tamunya yang ngga sadar waktu seperti kita, yang masa bodoh kalau mereka juga perlu istirahat. Kita pun keluar dari kafe ini, berdua. Aku setuju mengantarnya ke rumahnya karena dia tidak membawa mobilnya. Kita berjalan di keheningan, agak kikuk dan serasa ingin berdekatan tapi juga menjaga jarak. Untungnya tak lama kemudian, sembari masih berjalan, Budi mendapat panggilan telepon.

Budi mengangkat telepon itu, tangan satunya diangkat memberiku sinyal dia butuh waktu sebentar, dan dia berjalan agak menjauh. Aku dari beberapa meter tetap memperhatikannya, meski tidak dapat mendengar pembicaraannya. Wajah pamanku tampak dengan cepat berubah pucat dan, entah apa cuma perasaanku, juga terlihat sedih. Mungkin hanya perasaanku, pikirku.

Seusai Budi menutup panggilan itu, dia kembali ke dekatku. “Budi ada urusan mendadak. Wendy pulang duluan saja.”

Melihat ekspresi wajahnya yang tersenyum dipaksakan itu aku mencoba untuk menghiburnya. Aku lalu merangkulnya dan membuka mulut mau bicara, tapi tiba-tiba Budi mengerang dan sedikit melompat menjauh dari rangkulanku. Keenakan disentuh juga seharusnya ngga seperti itu reaksinya, “Jadi kenapa coba?” tanyaku dalam hati.

“Budi kenapa sih? Dari tadi rada aneh sikapnya.”

“Ngga apa, kemarin habis jatuh aja jadi agak sakit di punggung,” jawabnya.

“Aneh. Sini coba aku lihat,” kataku mendekatinya, berniat untuk hanya menarik kerah kausnya dan memeriksa sedikit punggungnya. Tapi Budi tiba-tiba menjauh dan bilang, “Ngga usah. Ya sudah sampai ketemu lain kali ya, Wendy.”

Karena posisi kita sebenarnya sudah di area parkiran dan dekat dengan mobilku, aku bergegas menarik lengan Budi. Aku penasaran saja, dan berasa ada firasat buruk. Aku berjalan dengan cepat dengan Budi, dan sesampainya di mobil aku memaksanya masuk dan duduk di kursi penumpang depan. Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, Budi yang bertubuh atletis dengan otot-otot yang terlihat menonjol bahkan dalam balutan kaus berlengan panjangnya mestinya dapat dengan mudah menepis genggamanku di lengannya tadi. Tapi aku tidak berpikir lebih lanjut soal ini—aku segera masuk dan duduk di kursi pengemudi.

“Kamu kenapa sih?” tanyaku dengan nada tidak sabar. Budi hanya diam melihatku, wajahnya terlihat antara jengkel dan lelah. Dia kemudian menghela nafas dan melihat ke depannya, tanpa menjawabku satu kata pun. “Jatuh kayak gimana bisa kena punggung sampek sakit gitu?” tanyaku lagi, tetap tidak dijawabnya.

Aku menggenggam ujung kaus pamanku. Dia tidak melawan. Lalu aku pelan-pelan menariknya ke atas, melepaskannya dari tubuhnya. Selagi menariknya dengan perlahan-lahan, kulit tangan dan jari-jariku bersentuhan dengan kulitnya, melewati lekukan-lekukan otot perut dan belahan antara perut dan dadanya, lalu leher dan dagunya, dan terakhir melewati lengan dan tangannya sampai bajunya seluruhnya terlepas. Begitu terdefinisi lekukan-lekukannya, aku agak nafsu melakukan hal ini.

Meski di kegelapan di dalam mobil di area parkiran ini aku dapat melihat garis-garis di sekujur tubuh bagian belakang Budi. Garis-garis gelap yang tebal yang jelas adalah luka-luka yang tidak mungkin didapatkan dari yang namanya jatuh—kecuali jatuh dan berguling-guling ditabrak motor terpental ke pagar dengan dada membusung, mungkin. Aku belum berkata apa-apa, masih bingung. Budi, pamanku juga sejenak terdiam lalu menangis. Tangisannya tanpa isakan, dan dia terlihat menggigit bibirnya berusaha menghentikan luapan emosinya, tapi tubuhnya bergetar tanpa dapat ditahannya. Sudah dua kali aku melihat pamanku menangis—sebelumnya sewaktu kejadian dengan Rustam. Melihatnya seperti ini berbagai macam hal terlintas di pikiranku, berbagai macam emosi menjadi satu juga, terutamanya aku juga ikut sedih dan marah seakan sudah jelas luka-luka itu perbuatan seseorang.

Aku tentunya tidak dapat memeluknya dari posisiku sekarang, dan aku pikir itu juga bakal membuatnya kesakitan lagi. Aku cuma tetap duduk, dan tangan kiriku menggapai kepalanya, mengelusnya. “Ada aku kok,” kataku agak kikuk. Aku kurang tahu cara menghibur orang. Tapi saat itu juga aku makin yakin aku masih sayang Budi dan aku ingin dia tahu aku ada untuknya. Beberapa saat terlewati dengan Budi masih menangis. Orang yang sosoknya yang seharusnya pria dewasa, bertubuh atletis, dan sikapnya yang biasanya gentleman—dan sekarang menangis seakan sudah tidak tahan dengan semua yang dia alami.

Selang beberapa menit sampai akhirnya tangisan Budi reda. Budi mulai berbicara, dan rupanya dia menceritakan apa yang selama ini terjadi padanya sambil aku mengemudi keluar dari area parkir.

Baru-baru ini Budi rupanya mendapat tawaran kerja sama dari teman Rustam. Budi seorang kontraktor dan arsitek freelance. Teman Rustam ini bernama Donny. Donny mengontrak Budi untuk membangun rumah di Bali untuk digunakannya sebagai vila. Meski hubungan Budi dengan Rustam buruk, Budi tidak menolak proyek itu karena, toh ini proyek beneran dari orang lain, pikirnya saat itu.

Sebenarnya Budi kurang punya kontak dengan penyedia bahan-bahan bangunan di Bali karena itu proyek pertamanya di sana. Selama ini Budi lebih berkonsentrasi mengerjakan proyek-proyek rukan perkantoran di Jakarta. Dan ketika itu Donny memperkenalkannya dengan temannya yang tinggal di sana dan memiliki usaha penyedia bahan bangunan. Sewaktu semua negosiasi sudah selesai dan proyek pembangunannya sudah dimulai, tiba-tiba teman Donny kabur membawa uang muka yang sudah diberikan.

“Gue ngga mau tahu, pokoknya lu kejar dia sampai dapet kalo ngga lu balikin uang gue,” kata Donny saat dia mendapat kabar temannya kabur dari Budi. Budi sudah berusaha mencari tahu keberadaan teman Donny, sampai-sampai menghubungi polisi sekitar untuk melaporkan pencurian. Tapi setelah seminggu pun belum ada perkembangan soal itu.

Dan akhirnya Donny menghampiri Budi di motel murah tempatnya tinggal sementara di Bali. Donny menolak untuk membayar semua ahli bangunan yang sudah dipanggil Budi, dan juga menolak Budi untuk melanjutkan pembangunannya, serta memaksa Budi untuk antara berhasil mendapatkan kembali uangnya atau mengembalikannya sendiri. Sebenarnya Budi sudah siap untuk meminta pinjaman dari bank, tapi...

Hari itu cuaca sedang memburuk dan Donny tiba-tiba menghampirinya di kamar motelnya bersama dua pria lain. Dia tidak mengenali kedua pria itu, Anto dan Zeni. Donny saat itu juga menyuruh kedua pria itu untuk menyergap Budi dan melucuti pakaiannya. Kedua pria ini bertubuh tinggi dan tegap, badannya berotot besar melebihi Budi. Donny sendiri tubuhnya tinggi dan besar meski tidak atletis dan perutnya besar. Ketiga pria ini berkulit gelap, dan tampang ketiganya cukup keras. “Gue denger dari Rustam loe suka dipake,” ujar Donny. “Maka itu bersyukurlah gue mau pake loe.”

Awalnya Budi mencoba melawan, tapi gagal dan mulutnya dibungkam dan disumpal dengan handuk. Budi cuma bisa mengerang-erang memberontak selagi Zeni duduk di atas punggung Budi yang telentang di lantai dan menahan kedua tangannya. Anto melepas celana Budi dengan cepat, lalu Zeni membalik badan Budi, Anto melepas ikat pinggangnya untuk mengikat kedua tangan Budi. Saat itu juga Donny melepas celananya sendiri dan dia berdiri memamerkan kontol yang hitam pekat, panjang, dan tebal. Kontolnya agak bengkok ke bawah, panjangnya sekitar 17 sentimeter, dan kepala kontolnya sangat besar. Selain kontolnya, buah zakarnya juga hitam besar-besar. Melihat ini semua Budi hanya menyesal telah kurang hati-hati dengan teman Rustam ini.

Selesai mengikat tangan Budi, Anto berlutut di hadapan kontol Donny dan mulai menghisapnya. Anto melakukannya tanpa menunjukkan ekspresi apapun, seakan itu memang sudah kewajibannya. Melihat itu Budi hanya terdiam bingung. Tapi tak lama kemudian Donny melepas kontolnya yang besar dan sepenuhnya ngaceng dari mulut Anto, lalu berjalan ke arah Budi. Tubuh Budi masih tertelungkup dengan Zeni duduk di sebelahnya, tangannya menahan kepala Budi, dan kedua tangan Budi terikat. Donny duduk dengan berlutut di atas Budi, dan dengan hanya dibasuh air liur Anto kontolnya disodokkak ke bokong Budi. Awalnya memang tidak langsung masuk, tapi setelah disodokkan berkali-kali dengan asal, akhirnya kontol itu masuk juga ke lubang Budi. Budi merasa sakit luar biasa, dan dia pun mengerang kesakitan dan menggigit handuk yang tadi disumpelkan dalam mulutnya.

Donny mengentoti Budi dengan kasar dan penuh tenaga. Tiap kali Donny menyodokkan kontolnya masuk, Budi dapat merasakan dinding prostatnya disodok juga. Dan Budi mulai tidak dapat menahan nafsu. Kontolnya mulai ngaceng meski terhimpit di antara tubuhnya dan lantai. Selang dua menit dan Donny sudah tidak dapat menahan dirinya lagi. Donny segera melepas kontolnya dan mengeluarkan pejunya di sekujur punggung Budi.

Budi sempat, meski merasa bersalah berpikir—dia sempat kecewa karena dia belum keluar dan Donny sudah selesai. Lalu Budi menoleh ke belakang, dan di matanya terlihat dua laki-laki yang sedang melepas pakaian. Setelah bertelanjanglah baru Budi sadar betapa atletisnya mereka—lebih dari atletis, Zeni dan Anto berotot besar-besar, terutama Anto. Dada Anto yang berotot besar dan berbulu menarik perhatian Budi—juga putingnya yang hitam dan tampak keras. Kedua pria ini, entah apanya Donny, menghampiri Budi. Zeni duluan berlutut, membasahi kontolnya dengan ludah, dan segera memasuki Budi. Budi tidak sempat memperhatikan kontol Zeni, tapi dari dalam lubangnya dia dapat merasakan sesuatu yang panjang meski tidak tebal—sesuatu yang seperti ular di dalam. Di sampingnya Anto berdiri sambil mengelus-elus kontolnya sendiri dan Donny yang duduk di samping memperhatikan itu semua.

Sambil mengentot Zeni meremas-remas bokong Budi. Saat itu Budi makin pasrah dan menikmati permainan ini. Tak lama dia melepas kontolnya dan Anto menggantikannya mengentoti Budi. Keduanya terus bergantian sampai saat Anto menarik Budi dan mendekapnya. Anto terlentang dan Budi didekap di atas tubuhnya, kontolnya pun masih ada di dalam lubang Budi. Dari belakang Zeni menghampiri keduanya dan dengan agak jongkok dia merapat. Kontolnya diarahkan ke lubang Budi, di mana kontol Anto masih memenuhi. Budi berpikir bahwa mungkin ini akan memudahkan mereka untuk bergantian mengentotinya, tapi bukan itu yang terjadi. Budi dapat merasakan kontol Zeni menempel tepat di atas pangkal kontol Anto dan lingkar lubangnya. Perlahan Budi merasakan sakit yang luar biasa saat kontol itu dipaksa masuk sedikit demi sedikit. Akhirnya dua kontol itu bersatu di dalam lubang Budi. Dua kontol pria dewasa yang membuat Budi merasa lubangnya sudah ditarik paksa lewat dari batas.

Anto awalnya hanya terdiam menahan tubuh Budi saat Zeni bergerak maju-mundur, kontolnya bergesekan dengan dinding lubang dan kontol Anto. Baru setelah posisi mereka mulai mantap Anto juga ikut bergerak naik turun. Kedua kontol itu bergerak masuk dan keluar bergantian. Gerakannya semakin cepat membuat Budi mabuk. Budi juga mulai menikmati dua kontol itu di dalamnya. Zeni lebih dahulu mencapai klimaks. Zeni bergegas mengeluarkan kontolnya dan mengocoknya. Semburan spermanya hangat membasahi punggung Budi lagi. Tak lama kemudian Budi pun mengeluarkan pejunya meski tanpa disentuh, membasahi perut dan dada Anto di bawahnya. Anto main lebih lama, terus mengentoti Budi di saat dia sudah melemas. Setelah beberapa menit kemudian barulah Anto juga melepaskan kontolnya dan mengeluarkan benihnya, kali ini di sekitar selangkangan dan paha Budi.

Terdengar suara rintikan hujan yang dengan cepat menjadi keras. Saat itu Budi berpikir sambil bernafas tidak teratur bahwa semua ini sudah selesai, tapi rupanya Donny tidak berpikir begitu. Seusai Zeni dan Anto, Donny sudah siap dengan kontol besarnya yang sudah sepenuhnya ngaceng lagi. Tanpa menunggu supaya Budi dapat bernafas lega, dia mulai mengentoti Budi lagi dan disusul kembali oleh Zeni dan Anto secara bergiliran. Hal ini berlangsung selama dua kali lagi sampai akhirnya Budi kelelahan untuk dapat ereksi lagi. Badan Budi berkeringat dan kulitnya panas dan kemerahan seperti orang demam. Kesadaran Budi mulai menipis meski di sekitarnya masih ada Donny, Anto, dan Zeni.

Melihat itu Donny seakan mendapat ide. Saat itu Budi sudah kurang sadar lagi apa yang sedang terjadi. Donny sepertinya memberi instruksi pada Anto dan Zeni untuk membawanya ke kamar mandi. Sebenarnya motel ini cuma memiliki dua kamar mandi, satu kamar mandi pria dan satunya lagi kamar mandi wanita dan keduanya dipakai bersama antara para tamu motel (atau bergantian kalau mereka malu mandi bersama). Kamar mandi pria terletak di ujung utara dan yang untuk wanita di ujung selatan motel ini. Kebetulan kamar Budi bersebelahan dengan kamar mandi pria, jadi mereka dengan mudahnya mengangkut Budi ke sana tanpa sepengetahuan pihak hotel.

Di kamar mandi saat itu sedang ada lima pria lainnya yang sedang mandi. Kamar mandi itu bentuknya seperti pemandian umum terbuka dengan beberapa shower yang saling bersebelahan dan beberapa kubik WC tertutup dan wastafel di sisi seberangnya. Pria-pria ini mandi tanpa saling memperdulikan satu sama lain. Ada yang benar-benar telanjang dan ada juga yang masih mengenakan celana dalam. Hanya sesampainya Anto dan Zeni masuk membawa Budi yang hanya dililit handuk di pinggulnya baru pria-pria ini pandangannya tertuju pada mereka.

Anto dan Zeni segera bertelanjang diri. Lalu mereka membawa Budi ke depan shower dan menyalakannya. Air yang dingin menyembur ke arah Budi dan mengagetkannya dari tidurnya. Budi terkaget dan berusaha memberontak, tapi Zeni dengan cepat menahan tubuh Budi dan mendorongnya ke dinding. Budi sejak tadi memang sudah mulai demam dan tubuhnya terasa sangat lemas, dan usahanya untuk berdiri dan melepaskan diri dari Zeni seperti tidak berarti. Bahkan Budi masih belum tersadar kalau dia menjadi tontonan pria-pria di sekitarnya.

Anto mengambil sabun dari wastafel dan mulai mandi. Dia mandi sedekat mungkin dengan Budi. Sedangkan Zeni berdiri dan menggesek-gesekkan kontolnya di muka Budi yang sudah mulai pasrah dan pandangannya mulai kabur. Di mata Budi hanya terlihat kontol Zeni dan buah zakarnya yang berkulit coklat gelap.

Pria-pria di sekitar seakan kebingungan, mereka tanpa sadar berhenti dari aktifitas mandi mereka dan terfokus memandang mereka bertiga. Ada pun dari mereka yang kontolnya sudah mulai ngaceng. Budi cukup mencolok di sana karena dia tampan dan tubuhnya cukup seksi meski Zeni dan Anto bahkan lebih kekar. Ada sesuatu dari kondisi Budi saat itu yang menarik perhatian pria-pria ini—entah apakah itu iba atau murni nafsu. Satu dari pria-pria ini memberanikan diri menghampiri ketiganya.

Pria ini berusia sekitar 30-an. Tubuhnya pendek dan terlihat kecil meski perutnya buncit. Kontolnya sudah tegang semenjak dia melihat adegan itu. Pria ini melihat ke arah mata Zeni dan Anto, dan seperti mendapat ijin, dia maju menghampiri Budi. Segeralah dia menghujamkan kontolnya ke dalam mulut Budi, seakan mulutnya memang lubang untuk itu. Tangan kirinya menahan di dinding dan tangan kanannya menahan kepala Budi dan dia pun maju mundur menyodok-nyodokkan kontolnya.

Tak lama kemudian pria-pria lain yang tadinya hanya melihat berkumpul di sekitar mereka. Ada yang tua, ada yang benar-benar gemuk, ada yang kontolnya raksasa. Yang pasti semuanya sudah bertelanjang bulat sewaktu mereka mengerumuni Budi.

Setelah bergiliran mengentoti mulut Budi, Anto berinisiatif menarik kaki Budi supaya terlentang di lantai dan dengan kedua kakinya dibuka selebar mungkin dia memainkan lubang pantat Budi dengan jari-jarinya. Kemudian Anto melihat ke pria-pria di sekitarnya seakan memberi isyarat dan segeralah satu dari mereka maju dan berlutut menghadap lubang Budi menggantikan posisi Anto.

Pria-pria yang mungkin sudah menikah dan istrinya sedang mandi di ujung lain hotel ini seperti tidak peduli lagi dengan apa yang mereka perbuat. Semuanya bergantian mengentoti Budi seakan tak peduli Budi menjadi korban kebejatan mereka. Semuanya mengentoti tanpa variasi, seakan mengemban misi untuk secepatnya mengisi Budi. Budi hanya bisa pasrah mendapati itu semua. Tubuhnya lemas dan nafasnya sudah tidak karuan. Dia bahkan sudah terlalu lelah, fisik dan mental, untuk dapat ngaceng lagi dan menikmati kejadian itu. "Apa ini kenyataan sebenarnya dunia pria?" tanyanya dalam hati.

Setidaknya tadi, sewaktu dia digilir oleh Donny dan lainnya, lubangnya tidak menerima peju mereka. Kali ini situasinya berbeda dan setiap pria tak dikenalnya ini memilih untuk mengeluarkan benih-benih mereka di dalam lubang tersebut. Usai kejadian itu, seakan tersadar dengan apa yang sudah mereka perbuat, pria-pria ini kembali ke shower masing-masing dalam diam dan melanjutkan aktifitas mandi mereka—ada yang segera mengeringkan tubuh dan mengenakan baju, ada yang mandi dengan seksama membersihkan tubuh.

Anto dan Zeni lalu membersihkan tubuh Budi. Seakan akhirnya iba, Anto membersihkan tubuhnya dengan seksama lalu mengeringkannya. Mereka hanya melilitkan handuk di sekitar pinggul Budi dan membopongnya kembali ke kamar di mana Donny sedang duduk di sebelah jendela merokok sambil membaca koran.

Melihat Anto, Zeni, dan Budi kembali ke kamar, Donny mematikan rokoknya, berdiri, dan menghampiri mereka. Budi masih terjaga dan dengan segenap tenaganya mencoba bangun untuk berbicara pada Donny, “Sa..ya.. janji.. saya ganti nan..ti.”

Donny hanya tertawa. Dia menarik lepas handuk dari pinggul Budi. Lalu dia menyumpal mulutnya dengan handuk itu. Donny melepas ikat pinggang kulit dari pinggangnya lalu melipatnya jadi dua. Dia berjalan ke belakang Budi dan segera mendorongnya terjatuh berlutut di lantai. Budi tidak menyangka apa yang selanjutnya dilakukan Donny adalah menyabetkan ikat pinggang ke punggungnya. Gesper dari sabuk itu melukai tubuh Budi, dan sedikit goresan dan darah keluar. Sekali, dua kali, tiga kali, entah berapa kali lagi Donny terus mencambukkan ikat pinggang tersebut ke punggungnya. Baru setelah hampir seluruh punggung Budi berwarna merah sampai ke pantat karena lebam-lebam dan luka goresan yang cukup parah Donny merasa puas dan berhenti. “Sampah goblok!” kata Donny.

Usai itu semua barulah Donny dan krunya meninggalkan Budi sendiri di kamar motelnya, tergeletak di lantai tanpa daya. Budi bahkan sudah tidak punya tenaga—jangankan tenaga, terpikir pun tidak untuk mengunci kamarnya. Kesakitan, lelah, demam, dia hanya berjalan ke arah ranjang, berbaring, dan dengan cepat terlelap. Budi terus berkutat di kamar motelnya, hanya membuka pintu saat ada yang mengantarkan makanan. Mengingat kejadian di kamar mandi itu Budi enggan untuk menghadapi kemungkinan bertemu salah satu dari pria-pria itu. Sekitar tiga hari kemudian lah, di tengah malam dia membeli tiket pesawat lewat laptopnya dan segera check out dari motel itu. Badannya masih lemas dan luka-luka di punggungnya masih belum sembuh saat dia menaiki pesawat kembali ke Jakarta.

Di Jakarta barulah Budi mendapat tenaga lebih untuk mengunjungi rumah sakit dan mendapat perawatan yang lebih lengkap. Selain luka-luka di punggungnya dia juga memutuskan untuk mengecek anusnya jika-jika ada luka yang parah dan melakukan tes anti-HIV (yang mana berhasilkan negatif). Sepulangnya dari rumah sakit dia memutuskan untuk mampir ke mal untuk mencari angin, melepas stress dan trauma. Dan berkat kebetulan yang teramat sangat dia melihatku duduk sendiri.

Tadi panggilan yang diterima Budi sewaktu kita masih di mal rupanya dari pihak biro pekerja ahli bangunan. Mereka rupanya menuntut Budi untuk kompensasi pembayaran sesuai kontrak yang sudah mereka tanda tangani. Mendapati itu tadi Budi berniat segera pulang untuk mengurus pembayaran dengan seluruh sisa tabungannya.

Mendengar ini semua emosiku meluap-luap. Tadi saat Budi masih bercerita aku memutuskan untuk terus mengendarai mobil berkeliling tanpa tujuan. Saat cerita itu usai aku merapatkan mobil di pinggir. Terdiam sebentar, lalu tangan kiriku menjangkau kepala Budi. Aku mengelusnya pelan, saat itu tanpa dapat berkata apa-apa. Saat itu juga aku ingin dan mulai memikirkan cara untuk membalas dendam kepada pria-pria yang sudah membejati pamanku, setidaknya Donny dan Rustam. Tapi aku tahu saat itu kondisi Budi masih belum baik dan aku memutuskan bahwa hal itu lebih penting daripada balas dendam, setidaknya untuk sementara ini.

“Bisa kan Budi kasih aku kesempatan buat ngejagain Budi, at least sampe Budi sehat,” kataku sambil menatap wajahnya.

Read More →

 

Copyright © 2012 HEAVEN OF MEN | Powered by Blogger